AMD Ryzen dan Athlon Mobile seri 7020 Dihadirkan, Untuk Laptop seri Ultra Low Power

Seri Athlon sepertinya belum mau dihentikan oleh AMD. Hal ini terbukti dengan diluncurkannya kembali APU Athlon dengan seri 7020. Tidak hanya kelas Athlon, ternyata seri 7020 ini juga hadir dengan versi Ryzen-nya. Semuanya akan masuk ke kelas U yang memiliki TDP hanya 15 watt saja.

“AMD telah merevolusi laptop tipis dan ringan dengan kinerja tak terkalahkan dan masa pakai baterai tanpa kompromi,” kata Saeid Moshkelani, wakil presiden senior dan manajer umum, unit bisnis klien, AMD. “Kami sangat bersemangat untuk menghadirkan semua yang diharapkan pengguna dari laptop premium ke pasar laptop mainstream dengan Prosesor Ryzen 7020 Series dan Athlon 7020 Series baru untuk seluler. Pada titik harga berapa pun, pengguna harus merasa yakin bahwa mereka mendapatkan pengalaman terbaik dengan AMD.”

Prosesor baru ini memiliki nama kode Mendocino yang menggunakan basis arsitektur Zen 2. Laptop yang akan dibuat dengan basis ini sendiri nantinya bakal masuk ke dalam kelas entry level sampai mainstream. Untuk kelas Athlon, inti prosesor yang terpasang adalah 2 core dengan 4 threads. Sedangkan untuk kelas Ryzen, konfigurasinya menggunakan 4 corethreads.

Dengan menggunakan TDP 15 watt, semua prosesor yang diluncurkan tersebut memakai Radeon 610M yang berbasis RDNA2 dengan unit eksekusi sebanyak 2 inti. Prosesor ini juga mendukung hingga 32 GB memori LPDDR5 dalam konfigurasi dual channel. AMD juga menyematkan kemampuan untuk pengisian baterai secara cepat serta Wake-on-Voice.

Berikut adalah 4 prosesor yang disediakan oleh AMD

Model Cores/ Threads Boost Frequency Base Frequency Total Cache (MB) TDP (Watts) GPU Model
AMD Ryzen 5 7520U 4C/8T Up to 4.3 GHz 2.8 GHz 6 MB 15 W AMD Radeon 610M
AMD Ryzen 3 7320U 4C/8T Up to 4.1 GHz 2.4 GHz 6 MB 15 W AMD Radeon 610M
AMD Athlon Gold 7220U 2C/4T Up to 3.7 GHz 2.4 GHz 5 MB 15 W AMD Radeon 610M
AMD Athlon Silver 7120U 2C/4T Up to 3.5 GHz 2.4 GHz 3 MB 15 W AMD Radeon 610M

AMD mengatakan bahwa nantinya laptop yang menggunakan prosesor ini akan mulai dari harga $399 atau sekitar Rp. 6 jutaan rupiah. AMD juga sudah mengumumkan bahwa mitranya seperti Acer, HP, Lenovo, dan Microsoft sudah siap untuk mengadopsi prosesor yang satu ini. Harapannya, laptop dengan AMD seri 7020 akan muncul pada sekitar kuartal ke 4 tahun 2022. Semoga saja, AMD cepat membawa prosesor baru ini ke Indonesia.

Seperti Ini Pengalaman Bekerja Sebagai Trainer di OPPO Indonesia

Deni Suwasta sudah bekerja selama delapan tahun di OPPO Indonesia, saat ini ia menjabat sebagai head trainer OPPO Indonesia di Kalimantan Selatan, Banjarmasin. Sebelum mencapai posisi tersebut, pada awal karirnya ia bekerja sebagai promotor atau sales (SPG/SPB) selama dua tahun.

Kami berbincang singkat dengan Deni untuk mendengar, pengalaman seperti apa yang ia dapatkan selama bekerja di OPPO. Saat itu kami menemui Deni di salah satu OPPO Gallery (OG), tepatnya di OG Gandaria City (sebelum penjualan perdana Reno8 Pro 5G dan Reno8 Z 5G). Ia dan banyak rekannya sedang berkumpul di Jakarta sebagai bagian dari kegiatan OPPO untuk para head trainer.

OPPO sendiri memang baru saja merilis seri Reno8 yang kini sudah secara lengkap bisa dibeli umum oleh konsumen. Mulai dari Reno8 Pro 5G, Reno8 5G, Reno8 Z 5G, dan Reno8 4G.

Selain perangkat smartphone, ada pula TWS terbaru yaitu OPPO Enco Air2 Pro dan Enco Buds2. Saat kami berbincang dengan Deni, rekan-rekan lain tampak ada yang menggunakan Reno8 Pro 5G dan juga TWS terbaru OPPO.

Perjalanan awal dari promotor

Ketika masih menjadi promotor, Deni mengenakan seragam hitam putih dan berinteraksi langsung dengan konsumen. Tugas utamanya termasuk untuk mempromosikan, melayani konsumen, dan tentu saja mendobrak penjualan.

Menurut Deni, salah satu keuntungan bekerja di OPPO Indonesia adalah jika kita memiliki kemampuan maka boleh mengikuti challenge yakni seleksi trainer yang diadakan oleh OPPO. Ia mengikuti challenge sebanyak dua kali, karena yang pertama gagal.

Dulu namanya TTT (training the trainer), leader yang akan membuka lowongannya dan semua promotor berkesempatan untuk join. Kita dikirim ke Jakarta untuk mempelajari basic-basic sebagai trainer, public speaking, pembuatan materi, dan cara membawakan materinya seperti apa,” ujar Deni.

Bekerja di OPPO

Keseruan Menjadi Trainer OPPO

Dari total delapan tahun bekerja di OPPO Indonesia, dua tahun pertama Deni bekerja sebagai promotor. Kemudian pernah menjadi golden trainer, dan sekarang menjadi head trainer di Kalimantan Selatan, Banjarmasin.

Kalau tidak ada challenge sebenarnya tidak terbayang menjadi head trainer, tetapi saya orangnya memang suka berorganisasi. Dari dulu sejak masih sekolah ikut pramuka, sehingga skill komunikasinya terbentuk. Jadi ketika ada challenge dari OPPO maka saya ikut, dan passion saya tersalurkan di public speaking ini,” tambahnya.

Ia juga mengungkap keseruan menjadi bekerja sebagai trainer di OPPO Indonesia, salah satunya kalau ada produk baru yang akan dirilis maka bisa pegang duluan. Para trainer akan dipinjamkan untuk mendapatkan experience dan bahkan biasanya mereka bisa memegang lebih dari satu perangkat baru.

Pengalaman Bekerja Sebagai Trainer

Tentunya menjadi trainer juga memiliki tantangannya tersendiri, salah satunya sulitnya menyamakan pendapat. Jika ada produk baru, kita harus membuat strategic planning untuk training-nya seperti apa dan menghitung coverage training itu sudah sampai mana progres-nya.

Untuk pelaksanaan training promotor ada batch-nya, tergantung shift dari tokonya, karena promotor ada shift pagi dan shift siang, biasanya jumlahnya sekitar jadi 20-an. Ketika ada meeting, para trainer juga ada sharing training plan. Beberapa ada yang bisa ditambahkan ada yang tidak, karena kebiasaan pengguna dan budaya di daerah mempengaruhi cara dalam menawarkan produk.

Deni sendiri paling suka dengan lini smartphone seri Reno dan Find. Menurutnya seri Reno terbaru bagus-bagus dan inovatif, ada banyak fitur-fitur baru yang dihadirkan di produk tersebut. Retro desainnya yang keren juga sangat mudah dijual.

Bekerja di OPPO

Untuk mempelajari produk-produk terbaru yang akan dirilis oleh OPPO Indonesia terbilang tidak sulit. Sebab setiap produk sudah ada key selling point, jadi disitu yang akan ditekankan. Namun yang menjadi kesulitan adalah cara tangkap trainer berbeda dengan promotor, ke promotor ini yang kadang harus mengulas lagi materinya, supaya lebih mudah dipahami sama mereka.

Adanya unit demo, sangat membantu para trainer dan promotor memahami produknya. Selain itu, dari promotor ke konsumen juga harus mencari cara agar informasi bisa masuk dan dimengerti oleh konsumen.

OPPO adalah perusahaan yang bagus, karena dia mencari orang lebih banyak dari internal, dari karyawan OPPO dan untuk OPPO juga. Karena saya pernah menjadi promotor, jadi saya bisa tahu, pernah mengalami, jadi saya paham mereka, dan saya senang bagaimana cara OPPO men-threat tim-timnya. Intinya saya sangat bangga sekali menjadi bagian dari perusahaan,” tutupnya.

Seri OPPO terbaru yaitu Reno8 telah tersedia di toko gadget di seluruh Indonesia. ‘Pembekalan’ para trainer di toko OPPO tentunya penting, untuk menjaga pengetahuan para front liner dalam menjelaskan beragam produk OPPO terbaru sesuai dengan wilayah mereka.

Pengalaman maksimal juga dihadirkan OPPO lewat OPPO Gallery untuk pembelian seri Reno8 secara offline. Dukungan keahlian para trainer juga bisa memberikan pengalaman belanja toko offline OPPO lain di seluruh Indonesia secara maksimal.

Informasi produk OPPO terbaru bisa Anda cek di situs resmi.

Spider-Man: Miles Morales Versi PC akan dirilis tahun ini.

Spider-Man: Miles Morales akan segera mengikuti jejak pendahulunya, Marvel’s Spider-Man (2018), yang akan hadir di PC.

Hal ini sebenarnya sudah diungkapkan melalui blog PlayStation beberapa bulan yang lalu. Namun, untuk menyambut versi PC-nya yang akan dirilis dalam waktu dekat, mereka juga mengunggah sebuah video pendek yang menunjukkan sedikit gameplay, dengan estimasi waktu perilisan di akhir video.

Sony menyatakan bahwa Spider-Man: Miles Morales akan dirilis pada musim gugur, yang berlangsung sekitar bulan September hingga November. Setidaknya, pemain tidak perlu menunggu tahun depan untuk menikmati game yang dirilis pada tahun 2020 ini di PC.

Sebelumnya, Spider-Man: Miles Morales hanya tersedia di PlayStation 4 dan PlayStation 5. Selama dua tahun sejak perilisannya, game superhero berkekuatan laba-laba listrik ini berhasil terjual lebih dari 33 juta kopi dari seluruh dunia (per Mei 2022).

Spider-Man: Miles Morales dapat dikatakan sebagai sebuah game spin-off, yang menceritakan karakter Spiderman selain Peter Parker. Di dalam komik Marvel sendiri, sebenarnya terdapat banyak sekali Spiderman, dengan berbagai macam keunikan dan karakter yang sangat bervariasi.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, Spiderman Peter Parker-lah yang memang paling dikenal oleh khalayak umum, mengingat ia kerap kali diangkat di layar lebar.

Miles Morales merupakan seorang pemuda biasa, yang sempat muncul di game Marvel’s Spider-Man (2018). Ia merupakan karakter sampingan, yang diceritakan dekat dengan Peter Parker. Ia sering membantu Peter untuk mengurus sebuah penampungan orang-orang terlantar.

Pada akhir game, Miles menceritakan kepada Peter bahwa ia memiliki kondisi yang “aneh”. Miles tak menyangka, bahwa kondisi yang ia miliki itu, ternyata juga Peter alami.

Setelah itu, Peter tak ragu untuk membuka identitas rahasianya. Dari situlah, cerita dan karakter Spiderman Miles Morales mulai dibangun, yang akhirnya dirilis 2 tahun kemudian (2020).

Game Spider-Man: Miles Morales masih memiliki gameplay yang mirip dengan pendahulunya. Walau sama-sama bernama Spiderman, kekuatan Miles Morales memiliki sedikit peningkatan. Selain mampu merayap, ia mampu memanipulasi kekuatan listrik yang dihasilkan oleh tubuhnya.

Sama seperti gameplay, cerita yang diangkat pun juga berbeda. Sebagai seorang remaja pria dengan segudang masalah di usianya, Miles kini juga mendapatkan tanggung jawab baru, sebagai Spiderman yang menjaga kota New York saat Peter Parker sedang pergi ke luar kota. Dapat dikatakan, ceritanya sedikit lebih ringan, namun tanpa mengurangi kualitas cerita dan delivery yang baik.

Jika Anda tertarik dengan Spider-Man: Miles Morales versi PC, Anda sudah bisa memasukkannya ke dalam wishlist Steam atau Epic Store.

Tarif Komisi Kemahalan, Perusahaan NFT Ogah Jualan di Platform Apple

Apple kini mengizinkan developer menjual NFT lewat aplikasi atau game bikinannya. Sepintas, kabar ini mungkin bakal terdengar cukup menggembirakan, khususnya bagi para NFT enthusiast yang menggunakan perangkat Apple. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Pasalnya, sebagian besar perusahaan NFT justru tidak sudi berjualan via Apple App Store, dengan alasan bahwa mereka bakal merugi jika tetap ngotot melakukannya.

Kenapa bisa demikian? Karena Apple punya kebijakan bahwa setiap penjualan di platform App Store akan dikenai tarif komisi sebesar 30%, dan ini juga berlaku untuk transaksi yang berlangsung di dalam aplikasi (in-app purchase). Berdasarkan laporan The Information, seandainya pengguna membeli NFT lewat aplikasi yang diunduhnya di App Store, maka itu pun juga dihitung sebagai in-app purchase dan akan dikenai tarif komisi yang sama besarnya.

30% sebenarnya adalah angka standar yang sudah Apple tetapkan sejak lama, akan tetapi ini sangatlah besar di dunia NFT. Sebagai konteks, OpenSea, yang notabene merupakan salah satu marketplace NFT terpopuler, menetapkan tarif komisi sebesar 2,5%. Jadi seandainya ada NFT yang terjual seharga $100 di platform milik OpenSea, maka OpenSea akan menerima komisi sebesar $2,5.

Nah, yang Apple minta bukanlah 30% dari $2,5, melainkan 30% dari $100, alias $30. Ilustrasi sederhana ini semestinya bisa menggambarkan bagaimana perusahaan seperti OpenSea justru bisa merugi apabila nekat berjualan NFT via aplikasi di App Store.

OpenSea iOS app
OpenSea dan beberapa marketplace NFT lain memang punya aplikasi di platform iOS, akan tetapi fungsinya cuma sebatas untuk melihat-lihat saja / OpenSea

Ini juga yang menjadi alasan mengapa Magic Eden, marketplace NFT terbesar untuk ekosistem Solana, sengaja tidak mengizinkan penggunanya membeli NFT lewat aplikasinya di iPhone. Bahkan ketika Apple menawarkan untuk menurunkan komisinya menjadi 15%, Magic Eden tetap menolak untuk berjualan NFT di platform Apple, per laporan The Information.

Baik OpenSea, Magic Eden, maupun sejumlah marketplace NFT lain memang masih bisa kita temukan aplikasinya di Apple App Store, akan tetapi fungsinya bagi pengguna hanya sebatas untuk melihat-lihat saja — tidak ada opsi untuk membeli NFT sama sekali. Daripada rugi, lebih baik fiturnya ditiadakan saja sepenuhnya, kira-kira seperti itu dasar pemikirannya.

Selain karena tarif komisi, faktor lain yang juga mempersulit gerak-gerik perusahaan NFT di platform Apple adalah, Apple tidak mengizinkan transaksi menggunakan mata uang crypto. Dengan kata lain, NFT di platform App Store harus dijual dalam mata uang tradisional, dan ini pada praktiknya bakal menyulitkan karena nilai cryptocurrency yang sangat fluktuatif.

Tanpa perlu terkejut, kebijakan Apple ini memicu kritik pedas dari banyak pihak, salah satunya dari CEO Epic Games, Tim Sweeney. Sekadar mengingatkan, tarif komisi yang kelewat tinggi ini sebelumnya juga menjadi akar permasalahan utama dari perseteruan panjang Apple dan Epic Games di meja hijau.

Via: NFT Evening. Gambar header: Zhiyue via Unsplash.

Peran Free Fire di Keuangan Sea, Induk Shopee

Sea Ltd., perusahaan induk dari Shopee, baru saja mengungkap bahwa mereka merumahkan sekitar 3% dari karyawan mereka di Indonesia. Alasannya, karena mereka sedang berusaha menekan operasi demi efisiensi biaya.

Selain itu, mereka juga ingin memperbaiki reputasi perusahaan di depan investor. Di Indonesia, Sea punya dua bisnis besar, yaitu e-commerce Shopee dan Garena, perusahaan game dan esports yang populer berkat Free Fire.

Laporan Keuangan Sea

Berdasarkan laporan keuangan Sea pada Q2 2022, diketahui bahwa mereka mengalami kerugian sebesar US$931 juta. Nilai kerugian ini naik dua kali lipat jika dibandingkan dengan besar kerugian di tahun lalu, yang hanya mencapai US$433,7 juta.

Padahal, keuangan divisi e-commerce Sea, Shopee, mengalami “peningkatan yang signifikan”, ungkap CEO dan Chairman Sea, Forrest Li, dikutip dari Deal Street Asia.

Sementara itu, dari segi pemasukan, Sea dapat mengumpulkan US$2,9 miliar pada Q2 2022. Angka ini naik 29% dari tahun sebelumnya. Dari total pemasukan Sea, Shopee memberikan kontribusi sebesar US$1,7 miliar. Pemasukan divisi e-commerce itu naik 51% dari tahun sebelumnya. Asia Tenggara dan Taiwan menjadi dua pasar terbesar untuk Shopee saat ini.

Pemasukan Sea pada Q2 2021 dan Q2 2022. | Sumber: Deal Street Asia

“Keuangan divisi Shopee mengalami peningkatan yang signifikan berkat model monetisasi yang kami gunakan dan peningkatan efisiensi di semua pasar kami. Divisi ini bahkan memiliki tingkat pertumbuhan yang sehat, jika dibandingkan dengan pesaing,” ujar Li.

Namun, ke depan, Sea memperkirakan, aktivitas belanja online akan mengalami penurunan. Hal ini terjadi setelah tren naik selama pandemi.

Kabar baiknya, divisi layanan keuangan Sea mengalami pertumbuhan pesat selama Q2 2022. Total pemasukan dari divisi tersebut mencapai US$279 juta, naik lebih dari 200% dari tahun sebelumnya. Jumlah volume transaksi di mobile wallet buatan Sea mengalami kenaikan.

Pada Q2 2022, total volume transaksi untuk mobile wallet mencapai US$5,7 miliar, naik 36% dari tahun 2021. Terakhir, jumlah pengguna aktif per kuartal dari produk SeaMoney juga tumbuh sebesr 53%, menjadi 52,7 juta orang. Sea mengatakan, hampir 40% dari pengguna Shopee di Asia Tenggara juga telah menggunakan SeaMoney.

Pengguna aktif per kuartal di Garena. | Sumber: Deal Street Asia

Untuk divisi gaming Sea, Garena, mereka melaporkan pemasukan sebesar US$900,3 juta pada Q2 2022. Angka ini turun dari pemasukan Garena pada Q2 2021, yang mencapai lebih dari US$1 miliar.

Sementara nilai bookings — yang merupakan tolok ukur Garena akan spending para pemain — juga mengalami penurunan, dari US$1,2 miliar pada tahun lalu, menjadi US$717,4 juta di tahun ini. Dan, jumlah pengguna aktif per kuartal juga mengalami penurunan sebesar 15%, menjadi kurang dari 620 juta orang.

Peran Garena (FF) di Sea

Garena merupakan salah satu perusahaan yang memberikan kontribusi besar pada pemasukan Sea. Principal Advisor Nilzon Capital, John Octavianus bahkan mengatakan, selama ini, banyak pengamat percaya bahwa Garena merupakan penopang hidup Shopee dan berfungsi layaknya “penyedia subsidi silang”, seperti yang disebutkan oleh CNBC.

Free Fire merupakan kunci di balik kesuksesan Garena. Pada Q2 2022, game battle royale itu sukses menjadi game yang paling banyak diunduh di dunia. Sementara dari segi jumlah pemain aktif bulanan di Android, Free Fire berhasil duduk di peringkat tiga.

Free Fire sangat populer di Amerika Latin dan Asia Tenggara. Di dua kawasan tersebut, game buatan Garena ini telah mempertahankan gelarnya sebagai mobile game dengan pemasukan terbesar selama 12 kuartal, menurut laporan Pocket Gamer.

Free Fire merupakan sumber pemasukan utama Garena.

Sayangnya, bisnis Free Fire tidak selalu mulus. Salah satu masalah yang Garena hadapi adalah pemblokiran di India. Padahal, 16% dari total pemain Free Fire berasal dari negara tersebut.

Alasan pemerintah India memutuskan untuk memblokir Free Fire adalah karena hubungan antara India dan Tiongkok yang memanas pada awal 2022. Alhasil, masing-masing negara pun menjadikan kebijakan ekonomi sebagai “senjata” untuk menyerang yang lain.

India “menyerang” Tiongkok dengan memblokir sejumlah game dan aplikasi buatan perusahaan Tiongkok. Dan Free Fire merupakan salah satu game yang terkena blokir. Memang, Sea merupakan perusahaan yang bermarkas di Singapura. Meskipun begitu, Tencent — publisher game terbesar di dunia yang berasal dari Tiongkok — merupakan pemilik saham terbesar dari Sea. Hal inilah yang membuat Free Fire ikut terkena imbasnya.

Tak hanya itu, pada awal September 2022, Garena dilaporkan telah memecat puluhan karyawannya. Dua divisi yang terkena dampak dari pemecatan ini adalah divisi livestream dan development.

Staf yang bertanggung jawab atas Booyah! — aplikasi komunitas dan livestream milik Garena — juga dipecat, menurut dua narasumber Reuters. Salah satu dari mereka menyebutkan, hal itu berarti, ada sekitar 30-40 orang di Garena yang akan dirumahkan.

Sea Labs jadi salah satu divisi yang terkena dampak pemecatan di Garena. | Sumber: Gamedaim

Dikabarkan, Garena menutup Sea Labs, divisi development mereka, beserta dengan sejumlah proyek eksperimen mereka. Dua proyek yang disebutkan telah dihentikan adalah proyek public cloud dan blockchain.

Narasumber lain mengonfirmasi bahwa Sea telah memberhentikan beberapa proyek besar dan memecat “puluhan orang”. Dia menyebutkan, alasan Garena melakukan hal itu adalah karena Sea ingin meningkatkan laba perusahaan.

Kepada Reuters, juru bicara Sea mengatakan, perusahaan telah membuat sejumlah perubahan demi meningkatkan efisiensi dalam operasi perusahaan. Dan keputusan tersebut akan mempengaruhi sejumlah karyawan.

Lebih lanjut sang juru bicara menjelaskan, mereka akan fokus untuk memperkuat ekosistem mereka di masa depan. Sayangnya, dia tidak mengatakan berapa banyak karyawan yang Garena pecat.

Main Game di Reno8 Pro 5G, Lancar dan Tidak Panas Berlebihan

Reno8 Pro 5G memang diunggulkan dari sisi kempuan fotorafi, salah satunya adalah karena memiliki NPU MariSilicon X yang membantu pengolahan foto untuk hasil maksimal. Meski demikian, dukungan perangkat keras dan lunak di ponsel ini juga layak dipilih gamers.

Dukungan untuk bermain game di perangkat ini dimulai dari sisi prosesor. Reno8 Pro 5G hadir dengan prosesor MediaTek Dimensity 8100-MAX 5G yang telah dioptomasi untuk perangkat Reno8 Pro 5G.

Dukungan gaming di Reno8 Pro

Dibandingkan dengan Reno7 Pro 5G, ada beberapa peningkatan yang dibawanya yaitu CPU performance sebesar 12%, AI performance 175%. efisiensi power up to 50% dan GPU performance meningkat 29%.

gaming Reno8 Pro 5G

Dukungan yang kedua adalah dari sisi desain. Dengan bobot yang cukup ringan, pengalaman bermain game dengan ponsel ini cukup menyenangkan. Tidak berat ditangan dan rasa genggam yang optimal karena bagian pinggir dari bahan logam. Meski demikian karena bagian belakang berlapis kaca, maka bagian perangkat ini cukup licin.

Layar 6.7 inci cukup lebar untuk mengakses game, kualitas OLED display juga memberikan tambahan pengalaman bermain yang baik. Reno8 Pro 5G telah mendukung refresh rate 129Hz. Untuk sisi RAM dan ROM hadir 12GB dan 256GB dengan 7GB RAM Expansion.

Beralih ke sisi audio, perangkat ini telah mendukung dual stereo speakers, bermain game dengan dual speaker seperti ini cukup menguntungkan karena tidak menggangu ketika tangan menggemgam perangkat untuk bermain game.

Dan, dukungan terakhir yang cukup penting dan menjadi kunci dalam kenyamanan bermain game di perangkat ini adalah sistem pendingin ultra konduktif di Reno8 Pro 5G.

Area pendingin di peranglat ini diperluas serta dihadirkan pula bahan pendingin baru. Hal baru yang hadir antara lain adalah Grafit Ultra-Konduktif yang berbahan molekul tinggi, biasanya digunakan untuk industri pesawat terbang.

Area pendingin lebih luas 2.2x dibanding Reno7 Pro 5G sedangkan penggunaan ultra conductive graphite thermal conductivity meningkatkan pengalaman pendingin 45% dari bahan graphite biasa. Setidaknya ada 6 bahan yang saling mendukung untuk memberikan pendinginan maksimal di perangkat.

gaming Reno8 Pro 5G

Pengalaman bermain game Apex Legends Mobile

Untuk menguji pengalaman bermain game di perangkat Reno8 Pro 5G saya menggunakan game Apex Legends Mobile yang selain merupakan game mobile favorit saya juga cocok untuk bahan uji karena fast pace gameplay dan environemnt element yang membutuhkan display yang baik.

Bermain dengan Reno8 Pro 5G menyenangkan, seru dan membantu untuk menang. Bobot yang ringan membuat tidak pegal bermain lama, bahan dan desain perangkat memberikan kenyamanan. Dual speaker menjadikan bermain lebih seru ketika tidak menggunakan TWS karena tangan tidak akan menutup suara game secara total.

Layar lebar nyaman untuk mengakses game dan kemampuan prosesor dan dukungan teknis di perangkat memberikan kemulusan bermain. Pengaturan yang sering saya gunakan adalah kualitas grafis extreme HD dan frame rate sangat tinggi. Serta beberapa pengaturan lagi dicoba untuk mentok kanan.

Reno8 Pro 5G bisa melibas pengaturan mendekati mentok kanan ini dengan mulus dan tanpa masalah sama sekali.

Untuk urusan panas perangkat saat bermain game, dengan pengaturan seperti di atas, perangkat terasa hangat pada bagian belakang tetapi masih sangat wajar dan sama sekali tidak menggangu saat bermain.

Jika Anda menggunakan pengaturan rekomendasi dari game, panas yang dihasilkan perangkat semakin kecil, bahkan mendekati penggunaan normal sehari-hari bukan seperti sedang bermain game.

Gaming di Reno8 Pro memberikan pengalaman yang cukup menyeluruh, dari sisi kualitas layar dapat, desain baik, audio lengkap dan dukungan kemampuan komputasi dan pendingin juga cukup prima.

Reno8 Pro 5G sendiri sudah dijual umum di toko resmi OPPO baik online maupun offline. Perangkat ini dijual dengan harga 9.999.000 atau 10 juta rupiah.

Sejarah Assassin’s Creed dari Waktu ke Waktu

Ubisoft resmi memperkenalkan Assassin’s Creed Mirage di acara Forward 2022. Berdasarkan trailer yang Ubisoft rilis, diketahui bahwa Mirage akan mengambil setting lokasi di Baghdad pada Abad ke-9, 300 tahun sebelum game Assassin’s Creed pertama dan 20 tahun sebelum Valhalla.

Di game itu, pemain akan menjadi Basim Ibn Ishaq, yang dikenal dengan nama “Loki” di Valhalla. Narasi dari Mirage akan fokus pada awal karir Basim sebagai Assassin. Sementara dari segi gameplay, tampaknya, Ubisoft akan kembali fokus pada elemen stealth.

Assassin’s Creed adalah franchise milik Ubisoft yang telah bertahan selama 15 tahun. Sejak game pertama Assassin’s Creed diluncurkan, franchise itu telah mengalami sejumlah perubahan.

Untuk mengupas perjalanan game legendaris ini, berikut sejarah Assassin’s Creed.

Berawal dari Sekuel Prince of Persia: The Sands of Time

Developer yang membuat Assassin’s Creed pertama adalah Ubisoft Montreal, yang didirikan pada 1997. Namun, selama beberapa tahun ke depan, mereka selalu membuat game-game yang mudah untuk dilupakan.

Nama mereka mulai dikenal setelah mereka meluncurkan Splinter Cell pada 2002. Ketika Ubisoft Montreal mulai memproduksi game stealth itu pada 2001, publisher Ubisoft membeli intellectual property atas Prince of Persia.

Kepada Ubisoft, Yannis Mallat, yang ketika itu menjabat sebagai CEO dari Ubisoft Montreal, menawarkan studio yang dia pimpin untuk membuat game reboot dari Prince of Persia. Alasannya, dia cukup menyukai game side-scrolling Prince of Persia yang dirilis pada 1989.

Ubisoft meluncurkan Prince of Persia: The Sands of Time pada 2003. Lagi-lagi, game itu sukses besar. Total penjualan dari game tersebut mencapai lebih dari 10 juta unit. Melihat kesuksesan tersebut, Ubisoft pun meminta tim Montreal untuk membuat sekuel dari Prince of Persia.

Dalam sebuah wawancara, Creative Director Patrice Desilets mengakui bahwa dia merasa kesulitan untuk membuat sekuel dari Sands of Time. Dia merasa, proyek itu menjadi sulit berkembang karena fakta bahwa tokoh utama dari game tersebut merupakan pangeran.

Saat itulah, dia ingat akan keberadaan “Hashshashin”, yang merupakan bagian dari secret society. Dia lalu mendapatkan ide untuk menjadikan seorang pembunuh alias Assassin, sebagai tokoh utama.

Setelah mendapatkan ide itu, Desilets bekerja sama dengan sejumlah developer veteran Sands of Time untuk membuat Prince of Persia: Assassin. Rencananya, game itu akan mengambil setting lokasi di Timur Tengah pada abad ke-12. Para player akan bermain sebagai seorang Assassin yang bertugas untuk menyelematkan dan menjaga Pangeran Persia, yang merupakan NPC.

Setelah mengembangkan game tersebut, tim Montreal sadar, game yang mereka buat tidak lagi bisa disebut sebagai sekuel dari Sands of Time. Kabar baiknya, setelah berdiskusi dengan Ubisoft, tim Montreal mendapatkan izin untuk membuat game yang sama sekali baru.

Dan game inilah yang akan menjadi game Assassin’s Creed pertama. Dalam pembuatan game tersebut, Desilets dan tim developer Sands of Time juga bekerja sama dengan Jade Raymond, staf baru di Montreal dengan pengalaman dalam membuat game open worlds.

Era Awal Assassin’s Creed

Saat membuat game Assassin’s Creed pertama, Desilets mencoba untuk membuat cerita yang didasarkan pada sejarah. Game itu mengambil setting waktu di era Perang Salib ke-3 di kawasan yang dikenal dengan nama Holy Land — yang kini merupakan kawasan dari Palestina, Suriah, dan Israel.

Di Assassin’s Creed, pemain akan bisa menjelahi kota-kota penting di Holy Land, seperti Damascus dan Jerusalem. Selain itu, pemain juga akan bisa mengunjungi Masyaf, markas dari para Assassin. Sementara tokoh utama dari game ini adalah Altair Ibn-La’Ahad, seseorang yang dilatih untuk menjadi Assassin dari kecil dan ditugaskan untuk membunuh sembilan tokoh penting yang didasarkan pada sejarah.

Assassin’s Creed pertama mengambil setting lokasi di Holy Land. | Sumber: Steam

Untuk membuat game Assassin’s Creed tampil beda dengan Prince of Persia, Ubisoft juga menambahkan narasi yang mengambil setting waktu di era modern.

Di game Assassin’s Creed pertama, pemain tidak hanya bisa bermain sebagai Altair, tapi juga Desmond Miles, keturunan dari Altair. Desmond diculik oleh Knights of Templar — musuh bebuyutan Assassins yang dikenal dengan nama “Abstergo Industries” di era modern. Menggunakan alat bernama Animus, Abstergo membuat Desmond melihat dan mengalami kehidupan Altair.

Sejak awal, Ubisoft optimistis dengan kesuksesan Assassin’s Creed. Buktinya, game itu dirilis pada November 2007, waktu menjelang liburan yang dianggap sebagai prime time. Tak hanya itu, Assassin’s Creed juga harus bersaing dengan Halo 3, game yang paling ditunggu-tunggu pada 2007, seperti yang disebutkan oleh Den of Geek.

Setelah dirilis, Assassin’s Creed mendapatkan sambutan yang cukup baik. Secara total, game itu terjual sebanyak lebih dari 10 juta unit. Meskipun begitu, ada elemen dari game tersebut yang kurang disukai oleh para gamers dan kritikus game. Sebagai contoh, walau element stealth dan action dari Assassin’s Creed mendapatkan pujian, misi utama dari game tersebut dianggap membosankan.

Sebagian misi di Assassin’s Creed pertama dianggap membosankan. | Sumber: Steam

Keluhan lainnya, Assassin’s Creed pertama juga hanya memiliki sedikit sidequests. Selain itu, ketika pemain memainkan Desmond, aktivitas yang bisa pemain lakukan sangat terbatas.

Hal ini membuat gameplay dari Desmond menjadi jauh lebih membosankan daripada gameplay dari Altair. Kabar baiknya, angka penjualan game tersebut dianggap cukup baik sehingga Ubisoft tidak keberatan untuk meluncurkan sekuel dari Assassin’s Creed.

Assassin’s Creed 2, Brotherhood, dan Revelations

Ubisoft meluncurkan Assassin’s Creed 2 pada 2009. Dalam game tersebut, tim Montreal berhasil menyempurnakan resep yang mereka gunakan untuk membuat game Assassin’s Creed pertama. Di AC2, Altair tidak lagi menjadi tokoh utama. Sebagai gantinya, para pemain akan bermain sebagai Ezio Auditore da Firenze, bangsawan muda asal Florentine yang hidup di Italia pada zaman Renaissance.

Untuk menyempurnakan AC2, tim Montreal mendengarkan kritik dan protes dari para gamers di game sebelumnya. Karena itu, AC2 tidak lagi memiliki side quests yang membosankan. Selain itu, untuk membuat gameplay dari AC2 menjadi lebih seru, tim Montreal memperkenalkan sejumlah musuh baru.

Memang, di game itu, Anda masih akan menemukan musuh yang mengutamakan kekuatan otot. Namun, Anda juga akan menemukan musuh lincah yang bisa bergerak cepat untuk mengejar Ezio. Tak hanya itu, di game ini, musuh juga bisa memeriksa tumpukan jerami, yang bisa menjadi tempat persembunyian bagi para pemain.

Selain membuat musuh yang lebih beragam, Montreal juga mengubah movesets dari Ezio. Harapannya, pemain akan bisa menghadapi musuh-musuh yang muncul di AC2 dengan lebih baik. Di game ini, Ezio tidak hanya ahli dalam menggunakan berbagai senjata — mulai dari pedang sampai halberd — dia juga bisa menggunakan hidden blade, senjata khas Assassin, untuk membunuh musuhnya. Ezio bahkan bisa menggunakan smoke bomb untuk melarikan diri.

Crowd system sudah menjadi bagian penting dari game Assassin’s Creed pertama. Di AC2, Montreal membuat sistem tersebut menjadi lebih baik. Selain menyempurnakan gameplay dari Ezio, Montreal juga membuat gameplay Desmond menjadi lebih menarik. Untuk itu, mereka mengenalkan Bleeding Effect, yang memungkinkan Desmond untuk meniru hal-hal yang bisa dilakukan oleh para pendahulunya.

Usaha Ubisoft Montreal berbuah manis. Assassin’s Creed 2 berhasil memenangkan sejumlah penghargaan game bergengsi. Melihat kesuksesan ini, Ubisoft pun berencana untuk meluncurkan lebih banyak game di bawah franchise Assassin’s Creed.

Namun, dalam pengembangan game Assassin’s Creed berikutnya, Raymond dan Desilets tidak lagi turun tangan. Padahal, keduanya memiliki peran penting dalam pembuatan franchise Assassin’s Creed.

Raymond tidak lagi bekerja di tim Assassin’s Creed karena dia dipromosikan untuk menjabat sebagai eksekutif. Sementara Desilets keluar dari Ubisoft untuk membuat studio baru di bawah THQ pada 2010. Tetapi, pada Januari 2013, Desilets kembali bekerja untuk Ubisoft setelah THQ tutup.

Desilets tidak bertahan lama di Ubisoft. Pada Mei 2013, dia dipecat dari perusahaan. Keluarnya Desilets tidak menghentikan Ubisoft untuk membuat game Assassin’s Creed baru.

Ezio kembali jadi tokoh utama di Brotherhood.

Assassin’s Creed: Brotherhood dirilis di 2010. Pada awalnya, gamers punya ekspektasi rendah akan game itu. Karena, Raymond dan Desilets tidak lagi turun tangan dalam pembuatan game tersebut. Selain itu, jeda waktu peluncuran Brotherhood dengan AC2 juga sangat singkat, hanya satu tahun. Gamers mengira, Brotherhood hanya akan menawarkan cerita fillers dari para Assassins. Namun, ternyata, kualitas Brotherhood tidak kalah dari AC2.

Di Brotherhood, Ezio masih menjadi peran utama. Tapi, game ini menawarkan pengalaman bermain yang berbeda dari AC2. Jika AC2 fokus pada petualangan Ezio untuk menjadi seorang Master Assassin, Brotherhood lebih fokus pada perjuangan Ezio setelah dia menjadi Master Assassin. Di Brotherhood, para pemain akan bisa merekrut orang-orang untuk bergabung dengan Assassins guild.

Brotherhood juga menjadi game Assassin’s Creed pertama yang memperkenalkan fitur competitive multiplayer. Di mode ini, para pemain akan menjadi Assassins yang harus bertarung dengan satu sama lain di peta yang penuh dengan NPCs.

Ubisoft merilis AC: Revelations pada 2011. Game itu menjadi game Assassin’s Creed ke-3 yang menjadikan Ezio sebagai tokoh utama. Game tersebut bercerita tentang usaha Ezio dalam mencari Masyaf. Revelations juga menjadi akhir dari cerita Ezio dan Altair.

Assasin’s Creed 3, Black Flag, Unity, dan Syndicate

Satu tahun setelah Revelations, pada 2012, Ubisoft meluncurkan Assassin’s Creed 3. Game tersebut menjadi game Assassin’s Creed pertama yang mengambil setting lokasi di Amerika Utara. Menggunakan Animus, Desmond akan menelusuri kehidupan Ratonhnhaké:ton, alias Connor. Montreal mulai mengembangkan AC3 pada 2010, tidak lama setelah AC2 diluncurkan. Secara total, game ini terjual sebanyak 12 juta unit.

Sama seperti di game Assassin’s Creed sebelumnya, di AC3, para pemain juga bisa menemukan berbagai tokoh sejarah, baik sebagai teman ataupun lawan. Contohnya, Benjamin Franklin, George Washington, Paul Revere, dan Marquis de Lafayette.

Ratonhnhaké:ton alias Connor. | Sumber: YouTube

Di tahun yang sama AC3 diluncurkan, Ubisoft juga merilis game spin-off dari Assassin’s Creed, yaitu Liberation. Dibuat oleh Ubisoft Sofia, Liberation mengambil setting lokasi di Louisiana pada abad ke-18. Tokoh utama di game ini adalah Aveline de Grandpré, seorang Assassin perempuan keturunan Prancis dan Haiti.

Diluncurkan pada 2013, Assassin’s Creed 4: Black Flag fokus pada cerita Edward Kenway, bajak laut asal Wales. Game tersebut mengambil setting lokasi di Karibia pada awal abad ke-18, yaitu di era kejayaan bajak laut. Black Flag merupakan salah satu game terlaris di 2013. Pada 2020, total penjualan dari game itu mencapai 15 juta unit, menurut laporan History Hit. Black Flag juga memiliki expansion yang melanjutkan cerita Aveline setelah Liberation.

Pada 2014, Ubisoft meluncurkan tiga game Assassin’s Creed: Freedom Cry, Rogue, dan Unity. Freedom City merupakan salah satu game spin-off dari Assassin’s Creed. Game tersebut mengambil setting waktu pada 1730-an. Tokoh utama dari game tersebut adalah Adéwalé.

Ahli sejarah, Alyssa Sepinwall menganggap, Freedom Cry merupakan game yang cukup penting karena game tersebut membuat para pemain memahami penderitaan para budak dalam perjuangan mereka untuk merdeka.

Sama seperti Liberation, Assassin’s Creed Rogue dikembangkan oleh Ubisoft Sofia. Game ini diharapkan akan menjadi akhir dari cerita Assassin’s Creed di kawasan Amerika Utara. Melalui game tersebut, Sofia juga mencoba untuk mengembangkan fitur berlayar, yang muncul di Black Flag.

Adéwalé di Freedom Cry. | Sumber: YouTube

Sementara itu, Rogue mengambil setting waktu saat Seven Years War. Di sini, pemain akan menjadi Shay Patrick Cormac, seorang imigran asal Irlandia yang tinggal di New York. Unity, yang dikembangkan oleh Ubisoft Montreal, diluncurkan bersamaan dengan Rogue. Game ini mengambil setting lokasi di Paris, di era Revolusi Prancis. Di Unity, para pemain akan bisa mengunjungi sejumlah tempat-tempat bersejarah dalam Revolusi Prancis.

Sayangnya, sambutan gamers akan Unity cukup buruk. Game itu tidak hanya penuh dengan bugs, animasi di game tersebut juga tidak terlalu bagus. Tak hanya itu, cerita yang diangkat Montreal dalam Unity juga dianggap kurang memuaskan. Dari berbagai masalah yang ada di Unity, terlihat jelas bahwa Unity terlalu terburu-buru untuk meluncurkan game tersebut.

Meskipun Unity menuai banyak protes, Ubisoft tetap bersikeras untuk meluncurkan Assassin’s Creed Syndicate pada 2015. Mengambil setting lokasi di Inggris pada abad ke-19, Syndicate fokus pada cerita sepasang saudara kembar: Jacob dan Evie Frye. Kedua karakter itu bisa dimainkan oleh para gamers secara bergantian.

Evie dan Jacob Frye. | Sumber: The Gamer

Di Syndicate, pemain akan bisa menjelajahi London di tengah Revolusi Industri. Jadi, para gamers akan bisa melihat bagaimana teknologi, kemiskinan, dan polusi mempengaruhi kehidupan di negara tersebut. Selain itu, para pemain juga akan bisa menemukan sejumlah tokoh sejarah ternama, seperti Charles Dickens, Charles Darwins, Karl Marx, Florence Nightingale, dan Duleep Singh, Maharaja terakhir dari Kekaisaran Sikh yang tinggal di Inggris.

Syndicate tidak dibuat oleh Ubisoft Montreal. Proyek pengembangan game tersebut dipimpin oleh Ubisoft Quebec. Secara total, Syndicate hanya terjual sebanyak 5,5 juta unit. Angka penjualan game ini lebih rendah dari game-game Assassin’s Creed lain. Hal ini terjadi karena pandangan gamers akan game Assassin’s Creed sudah terlanjur buruk, akibat Unity yang penuh dengan bugs.

Turunnya angka penjualan Syndicate mendorong Ubisoft untuk tidak terlalu tergesa-gesa dalam merilis game Assassin’s Creed baru. Setelah Syndicate, Ubisoft menghabiskan waktu dua tahun sebelum meluncurkan game Assassin’s Creed baru.

Origins, Odyssey, dan Valhalla

Setelah Syndicate, Origins menjadi game terbaru dalam franchise Assassin’s Creed. Game itu dirilis pada 2017, dua tahun setelah Syndicate. Satu hal yang menarik, dalam membuat Origins, Ubisoft memutuskan untuk melakukan sejumlah perubahan. Daripada fokus pada elemen stealth dan action, Ubisoft memilih untuk memasukkan elemen RPG di Origins.

Origins mengambil setting lokasi di Mesir Kuno. Cerita dari game ini fokus pada Bayek of Siwa dan istrinya, Aya. Keduanya ingin membalaskan dendam atas kematian anak mereka. Selain itu, mereka juga akan mencoba untuk mencari tahu asal dari konflik berkepanjangan antara Hidden Ones — cikal bakal dari Assassin Brotherhood — dan Order of Ancients, yang nantinya akan menjadi Templar Order.

Di Origins, Ubisoft juga pertama kali memperkenalkan mode Discovery Tour. Sesuai namanya, Discovery Tour memungkinkan para pemain untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Mesir Kuno. Ketika mode ini aktif, pemain juga bisa mendengarkan komentar audio serta membaca informasi teks yang tertera.

Satu tahun kemudian setelah Origins diluncurkan, pada 2018, Ubisoft merilis Assassin’s Creed Odyssey. Sebenarnya, pengembangan Odyssey berjalan secara bersamaan dengan Origins. Hanya saja, Odyssey dikembangkan oleh Ubisoft Quebec. Game tersebut fokus pada Peloponnesian War antara Sparta dan Athens yang terjadi pada 500 Sebelum Masehi.

Assassin’s Creed Odyssey. | Sumber: Steam

Di Odyssey, pemain akan menjadi seorang mercenary asal Sparta. Sebagai seorang mercenary, karakter yang pemain pilih akan bertarung di sisi para Sparta dan Athens.

Selain itu, sang tokoh utama mecoba untuk mencari saudaranya dan melawan Cult of Kosmos. Sama seperti Origins, Odyssey juga dilengkapi dengan fitur Discovery Tour. Secara total, game tersebut terjual sebanyak 10 juta unit.

Setelah selesai membuat Origins, Ubisoft Montreal fokus untuk membuat Valhalla. Game yang diluncurkan pada 2020 itu bercerita tentang seorang Viking raider bernama Eivor Varinsdottir.

Satu hal yang menarik, sebagian dari proses pengembangan Valhalla dijalankan pada era pandemi COVID-19. Menurut The Gamer, Valhalla terjual sebanyak 1,8 juta unit dalam seminggu pertama sejak game itu diluncurkan. Ubisoft bahkan mengklaim, game tersebut merupakan game dengan total pemasukan terbesar ke-2.

Sumber header: Red Bull

Youtuber Dunkey Dirikan Perusahaan Publisher Indie sendiri, Bigmode

Nama Videogamedunkey dikenal sebagai salah satu YouTuber gaming veteran yang masih aktif hingga sekarang. Namun YouTuber pecinta game-game Nintendo ini kini akan memasuki dunia baru, yaitu publikasi video game.

Dalam pengumuman terbarunya, YouTuber yang dikenal dengan panggilan Dunkey ini membuat video khusus yang berjudul “My Indie Game Publishing Company”. Dalam video tersebut dirinya mengumumkan perusahaan publishing-nya yang diberi nama Bigmode.

Dunkey pun menjelaskan tentang dirinya yang telah memiliki pengalaman 11 tahun di industri video game. Pria bernama asli Jason Gastrow pun dengan bangga mengatakan bahwa dirinya telah menjajal berbagai game indie dan mempopulerkannya ke pasar mainstream.

Bersama sang istri Leah Gastrow, Bigmode Games pun diluncurkan untuk secara profesional dapat mempublikasikan game-game indie tersebut. Publikasi itu juga menjadi “Segel Persetujuan” untuk para gamer bahwa game tersebut telah memenuhi standar dari Dunkey.

Dunkey pun mengajak para developer game indie untuk memasukkan game mereka ke dalam Bigmode. Dunkey memastikan bahwa dirinya  tidak akan mencampuri proses kreatif dari para developer indie ini nantinya.

Tapi Dunkey menjelaskan bahwa dirinya tetap ingin terlibat dalam proses pengembangannya, karena dirinya lelah hanya bisa menunggu hingga game bagus tersebut muncul. Maka dari itu ia akan membantu game-game bagus tersebut dapat berhasil secara komersil.

Lucunya, bila melihat langsung ke dalam website dari Bigmode Games, maka terlihat bahwa mereka mencari para developer yang menyenangkan, faktual, original, bersemangat dan artistik. Bigmode juga menjelaskan bahwa para developer yang ingin mendaftar harus punya visi yang jelas dan kuat.

Sebagai publisher, Bigmode juga menawarkan beberapa pilihan jasa mulai dari pendanaan, dukungan pengembangan, manajemen komunitas dan PR, QA, porting, pelokalan, dan bahkan merchandising.

Untuk sekarang, Bigmode Games memang masih belum memiliki proyek game yang tengah dinaungi. Namun rasa skeptis ternyata sudah muncul dari para developer indie, ataupun para pengamat industri video game.

Hal tersebut dikarenakan sebuah publisher tidak bekerja sesederhana kurasi game semata. Akan ada tugas berat yang harus dihadapi seperti pemasaran, negosiasi dengan platfrom, penjualan, pengiriman, mengatur channel distribusi, hingga memecahkan berbagai masalah yang nanti muncul setelah game-nya diluncurkan.

Game Iron Man akan Segera Diwujudkan dari kolaborasi antara EA dan Motive Studio

Setelah sekian banyak game bertema superhero yang ada di toko aplikasi game, akhirnya bakal ada sebuah video game yang mengambil salah satu karakter superhero yang sangat ikonik dari Marvel, yaitu Iron Man.

Bekerjasama dengan Motive Studio, kali ini EA akan memulai inisitaif untuk membuat sebuah proyek game Iron Man. Pernyataan resmi pengembangan awal proyek ini disampaikan melalui situs resmi mereka.

Game Iron Man ini dideskripsikan sebagai game single-player, third-person, dan action-adventure. Dengan demikian, bisa diasumsikan bahwa game ini bisa saja akan sekelas game Spiderman karya Insomniac, atau mungkin Batman: Arkham Knight. Namun, tentu bisa juga mendapat respon yang kurang baik seperti game Avengers milik Square Enix.

Dari segi cerita, mereka berencana akan menyusun sebuah narasi baru, yang akan menceritakan sejarah Iron Man, dengan mengeluarkan semua karisma, kejeniusan, hingga kompleksitas dari seorang Tony Stark. Mereka berharap, pemain dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi Iron Man melalui game ini.

“Kami senang dapat berkolaborasi dengan tim berbakat di Motive Studio, untuk membawa visi original mereka ke dalam satu karakter Marvel yang terpenting, terkuat, dan paling dicintai. Pengalaman mereka membawakan sebuah dunia hiburan yang baik dengan gameplay menantang, yang digabungkan dengan gairah otentik, akan memenuhi keinginan kami untuk mengantarkan surat cinta untuk superhero legendaris dalam bentuk sebuah video game Iron Man,” kata Bill Roseman, wakil presiden dan direktur kreatif Marvel Games.

Iron Man di Marvel’s Avengers 2020

Motive Studio bukanlah tim yang asing di dunia game superhero. Sebelumnya, mereka telah membuat game Guardians of the Galaxy, yang menuai respon cukup baik dari komunitas. Sama seperti game tersebut, tim ini juga akan dipimpin oleh Olivier Proulx.

Jika Anda tertarik dengan game Guardian of the Galaxy, Anda bisa cek kompilasi review Hybrid di sini.

“Sebuah kehormatan dan hak istimewa bagi kami berkesempatan membuat sebuah video game untuk salah satu superhero yang paling ikonik di dunia hiburan sekarang,” kata Olivier Proulx, selaku produser eksekutif.

“Kami memiliki peluang yang baik untuk menciptakan sebuah cerita milik kami yang baru dan unik. Marvel mendorong kami untuk membuat sesuatu yang fresh. Kami mendapatkan begitu banyak kebebasan, yang sangat menyenangkan bagi tim kami,” lanjutnya.

Sudah Dijual Umum, Reno8 Pro 5G Tinggi Peminat Pemesan

Setelah pemesanan perangkat selesai, dua perangkat Reno8 yaitu Reno8 Pro 5G dan Reno8 Z 5G kini sudah bisa dibeli umum di seluruh Indonesia. Penjualan perdana hari ini juga dilengkapi oleh satu perangkat IoT yaitu OPPO Enco Air2 Pro.

Pemesanan Reno8 Pro 5G disebutkan OPPO mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebesar 127% jika dibandingkan perangkat pendahulunya. Perangkat ini merupakan varian tertinggi dari seri Reno8.

Dalam acara penjualan perdana, selain kegiatan umum yang biasanya hadir dalam acara penjualan perdana seperti opnbox para pembeli terpilih, OPPO juga menghadirkan satu acara dengan tema “A Portrait of Wellbeing”.

Acara ini juga menonjolkan beberapa fitur dari perangkat OPPO yaktu O Relax yang bisa diakses pada OPPO Reno8 Serie 5G serta TWS terbaru OPPO yaitu Enco Air2 Pro. Tidak ketinggalan, pengunjung yang mencoba bisa memfoto ruangan minim cahaya tempat Singing Bowl dengan Reno9 Pro 5G.

Patrick Owen, Chief Marketing Officer OPPO Indonesia mengatakan bahwa, “dengan kehadiran OPPO Reno8 Pro 5G dan OPPO Reno8 Z 5G di Indonesia,
kami ingin membawa pengalaman terbaik mulai dari performa yang penuh tenaga, kamera kelas flagship berbasis AI, hingga dukungan konektivitas 5G yang super cepat kepada seluruh calon konsumen kami. OPPO Reno8 Pro 5G dan OPPO Reno8 Z 5G akan menjadi partner yang tepat untuk menuangkan segala kreativitas pengguna ke dalam sebuah karya berkualitas tinggi.”

Tentang Perangkat OPPO Reno8 Pro 5G, OPPO Reno8 Z 5G dan OPPO Enco Air2 Pro

OPPO Reno8 Pro 5G sendiri hadir dengan jargon portrait expert membawa NPU buatan OPPO MariSilicon X untuk hasil foto dan video yang baik. Kameranya dilengkapi sensor Sony, IMX709 RGWB untuk depan dan IMX766 untuk kamera utama di belakang.

Desain perangkat ini kekinian dengan elemen retro yang modern, menggunakan prosesor MediaTek Dimensity 8100-MAX 5G. Membawa baterai 4500 dengan dukungan SuperVOOC yang cukup besar yaitu 80W.

OPPO Reno8 Pro 5G dijual dengan harga 9.999.000 rupiah.

OPPO Reno9 Z 5G merupakan perangkat OPPO Reno8 yang hadir dengan prosesor Snapdragon 695 5G, layar 6.4 AMOLED Display 60Hz lalu baterai 4500 dengan 33W SuperVOOOC.

Kemampuan kamera yang hadir diperangkat ini antara lain AI Portrait Retouching dan Bokeh Flare Portrait.
Fitur favorit pada perangkat Reno Series seperti Selfie HDR, AI Palettes, AI Color
Portrait.

Desain perangkat ini menggunakan efek OPPO Glow yang menarik dan modern untuk digunakan.

OPPO Reno8 Z 5G dijual dengan harga 5.999.000 rupiah.

OPPO Enco Air2 Pro

TWS terbaru OPPO untuk kelas menengah yang dilengkapi berbagai fitur unggulan seperti Driver 12,4 mm, pengaturan bass Enco Live, audio bass yang dalam, kuat, dan bertenaga serta dilengkapi Active Noise Cancelling (ANC) dan Binaural Bluetooth 5.2.

Enco Air2 Pro dijual dengan harga 1.099.00 rupiah.

Salah satu pembeli perdana perangkat Reno8.

Promo pembelian

Untuk promo yang dihadirkan adalah:

  • Cashback hingga Rp750,000 + bunga 0% untuk cicilan bank BCA, BNI, BRI, CIMB, Mandiri sampai dengan 12 bulan, dan SpayLater dengan cicilan hingga 6 bulan.
  • Diskon pembiayaan hingga Rp2.400.000 melalui HCI, Okebeli, Indodana, Kredivo dan Payku.
  • Trade-in dengan perangkat OPPO Reno8 Pro 5G dan OPPO Reno8 Z 5G
    di Laku6 maka konsumen akan mendapatkan Extra Buyback hingga Rp1.300.000.

Promo di aplikasi My OPPO:

  • 2x Poin My OPPO hingga 11.000 poin
  • Voucher diskon 30% hingga Rp25.000 dari Klik Dokter
  • Voucher gym gratis 7 hari dan merchandise spesial dari Celebrity Fitness
  • Voucher belanja Rp250.000 untuk minimal pembelian Rp1 juta dari A Lux Life Beauty
  • Gratis parfum keluaran terbaru eksklusif senilai Rp400.000 dari BIES Perfume
  • Keuntungan lainnya dari Ruangguru, Toys Kingdom, Krispy Kreme, dan Dough
    Lab.

Khusus untuk konsumen yang membeli perangkat OPPO Reno8 Pro 5G dan
OPPO Reno8 Z 5G pada acara penjualan perdana di OPPO Gallery Plaza
Indonesia pada tanggal 23 September 2022 maka akan mendapatkan keuntungan
tambahan seperti gratis parfum dari BIES, gratis rangkaian personal care dari
Lavojoy, voucher belanja Rp250.000 dari A Lux Life Beauty, voucher gratis 7 hari
gym dari Celebrity Fitness, dan diskon 30% konsultasi di Klik Dokter.