Tiongkok Dominasi Hampir 25% Pasar Video Game Global

Keinginan pemerintah Tiongkok untuk dapat mengatasi masalah adiksi video game pada anak-anak memang membawa pengorbanan besar. Salah satunya adalah pembatasan izin perilisan game baru di sana selama beberapa tahun ke belakang.

Tetapi siapa yang menyangka bahwa meskipun telah menekan perilisan game baru baik dari developer lokal maupun luar negeri, namun nyatanya pasar video game di Tiongkok tetap mampu tumbuh subur.

Bahkan dalam laporan terbaru dari Newzoo, disebutkan bahwa pasar video game di Tiongkok kini telah mencakup 24,8% dari total pendapatan dari industri video game global saat ini.

Hal ini berarti meskipun para gamer Tiongkok tidak mendapatkan game-game baru sebanyak gamer di wilayah lain. Tapi uang yang mereka habiskan untuk video game masih dapat mengungguli banyak negara lain.

Ditambah lagi dengan fakta bahwa tidak semua lapisan gamer di sana bisa bebas bermain. Artinya, dengan persentase demografis yang lebih sedikit, pilihan game yang lebih sedikit, namun jumlah pendapatan dari pasar ini masih hampir mencapai seperempat dari total pasar global.

Lebih gilanya lagi, sejak 2021 silam pemerintah Tiongkok ternyata telah menghentikan masuknya game baru asal luar Tiongkok. Yang berarti para gamer di Tiongkok telah melalui 500 hari di sana tanpa asupan game impor baru.

Ya, sudah hampir dua tahun para gamer di sana hanya dapat memainkan game buatan developer lokal, atau memilih untuk memainkan game-game luar lama yang masih ada di sana.

Di sisi lain, para developer lokal pun terus berusaha mencari celah agar game-nya lolos dan dapat segera dipasarkan. Salah satunya adalah penggunaan celah dalam regulasi pemerintah Tiongkok terkait syarat lisensi.

Ilustrasi kecanduan game
Image Credit: SCMP

Dalam peraturannya, sebuah game mobile membutuhkan lisensi bila game tersebut adalah game berbayar dan memiliki fitur pembelian (microtransaction) di dalamnya. Dengan kata lain, membuat game yang menggunakan jalur monetisasi via iklan in-game bisa lolos.

Hal yang sama terjadi juga di platform PC, di mana Steam juga menjadi ‘Pasar Abu-Abu’ di sana. Hal ini disebabkan para pemain Tiongkok ternyata masih dapat mengakses game-game yang berada di Steam menggunakan VPN atau game accelerator.

Pada akhirnya, banyak pelaku industri video game di Tiongkok yang berharap bahwa klaim masalah adiksi game pada anak-anak yang sudah teratasi di sana bisa membawa dampak positif bagi mereka.

Harapannya adalah pemerintah Tiongkok nantinya akan membuka keran game baru lebih luas, atau bahkan menambahkan jam bermain bagi para gamer di bawah 18 tahun di sana.

Uniswap Resmi Luncurkan Platform Agregator Marketplace NFT

Bertambah lagi satu tempat untuk memperdagangkan NFT, kali ini dari nama yang semestinya sudah tidak asing lagi di dunia crypto, yaitu Uniswap. Ya, per hari ini, salah satu pemain lama di segmen decentralized exchange (DEX) itu telah resmi memiliki peran baru sebagai marketplace NFT.

Namun ketimbang mengambil jalur tradisional, Uniswap lebih memilih menjadi agregator yang menyuguhkan NFT dari banyak sumber sekaligus. Ini wajar mengingat Uniswap mengawali langkahnya dengan mengakuisisi platform agregator marketplace NFT Genie pada bulan Juni lalu. Dengan peluncuran segmen NFT di Uniswap, Genie sekarang sudah tidak lagi beroperasi dan sepenuhnya diserap oleh Uniswap.

Di awal peluncurannya, platform agregator NFT Uniswap mendukung 8 marketplace sekaligus: OpenSea, X2Y2, LooksRare, Sudoswap, Larva Labs, Foundation, NFT20, dan NFTX. Sebagai agregator, tugas utama Uniswap adalah menampilkan NFT dengan harga terbaik dari deretan marketplace tersebut.

Tidak berhenti sampai di situ saja, Uniswap juga menjanjikan gas fee hingga 15% lebih rendah dibanding platform agregator lain. Hal ini dicapai dengan memanfaatkan smart contract racikan Uniswap sendiri yang dinamai Universal Router.

Secara sederhana, Universal Router dirancang untuk menggabungkan proses swapping aset NFT dan swapping aset ERC20 ke dalam satu swap router yang sama. Dengan begitu, pengguna dapat melakukan swapping beberapa token dan NFT yang berbeda dalam satu proses selagi menghemat biaya yang harus dibayarkan sebagai gas fee.

Uniswap turut menjelaskan bahwa pada awalnya Universal Router hanya dibuat untuk menyempurnakan produk-produk mereka sendiri. Namun seiring pengembangannya, Uniswap menyadari bahwa platform lain pun juga bisa diuntungkan dengan mengintegrasikan smart contract ini. Itulah mengapa akhirnya Uniswap menjadikan Universal Router sebagai proyek open-source.

Untuk merayakan peluncuran segmen NFT-nya, Uniswap akan membagi-bagikan 5 juta token USDC ke sejumlah pengguna setia Genie, dilihat berdasarkan riwayat transaksinya selama ini. Bagi 22.000 pengguna pertama, Uniswap juga akan memberikan potongan gas fee sebesar 0,01 ETH. Program ini akan berlangsung hingga 14 Desember 2022.

Kehadiran platform agregator marketplace NFT Uniswap berpeluang untuk mengusik pasar NFT yang selama ini terkesan didominasi nama-nama tertentu saja. Di saat yang sama, Uniswap juga akan bersaing langsung dengan Rarible, salah satu marketplace lawas yang belum lama ini memutuskan untuk banting setir menjadi platform agregator.

Sumber: Uniswap via Cointelegraph.

OpenSea Kini Fasilitasi Perdagangan NFT dari Ekosistem BNB Chain

September lalu, OpenSea menegaskan kembali rencananya untuk menempuh jalur multi-chain. Satu demi satu blockchain mereka tambahkan, tiga di antaranya ‚ÄĒ Arbitrum, Optimism, Avalanche ‚ÄĒ bahkan datang dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Belum menunjukkan tanda akan berhenti, baru-baru ini mereka kembali menghadirkan integrasi blockchain anyar, yakni BNB Chain.

Melalui Twitter, akun resmi OpenSea mengumumkan bahwa NFT dari ekosistem BNB Chain sudah bisa diperdagangkan lewat OpenSea dengan memanfaatkan BitKeep Wallet. Menurut OpenSea, semua koleksi NFT BNB Chain yang memiliki setidaknya satu transaksi yang terjadi dalam tahun ini akan otomatis tercantum di platformnya.

Tidak lupa, OpenSea turut menyambut dengan terbuka kedatangan proyek-proyek NFT yang sangat populer di ekosistem BNB Chain, macam PixelSweeper, Gooodfellas, MOBOX, maupun game MOBA Thetan Arena.

Pihak BNB Chain sendiri menyambut baik inisiatif yang OpenSea jalankan. Dalam sebuah posting blog, tim BNB Chain menyebut bahwa kolaborasi ini akan mendatangkan berbagai keuntungan bagi komunitas kreatornya, mulai dari sumber pemasukan ekstra, pembayaran secara real-time, sampai fitur manajemen koleksi.

Dari sisi pengguna, integrasi ini berarti mereka bisa saling memperdagangkan NFT dengan gas fee yang lebih rendah berkat protokol Seaport yang digunakan OpenSea. Tentu saja kita tidak boleh lupa bahwa OpenSea masih menyandang status sebagai salah satu marketplace NFT terbesar saat ini, dan itu berarti kreator NFT BNB Chain punya peluang besar untuk menggaet audiens baru.

“Integrasi ini akan membawa kreator dalam jumlah besar ke sistem yang lebih luas, sekaligus memberdayakan kreator dan inisiatif NFT dalam ekosistem BNB Chain,” ucap Gwendolyn Regina, Investment Director di BNB Chain.

BNB Chain sendiri merupakan salah satu blockchain dengan pengguna aktif harian terbesar. CoinDesk menyebutkan bahwa ekosistem BNB Chain telah mendukung lebih dari 1.300 decentralized app (dapp) dari berbagai macam kategori, termasuk halnya decentralized finance (DeFi), metaverse, blockchain gaming, dan NFT. Oktober lalu, BNB Chain juga sempat memperkenalkan program pendanaan senilai $10 juta guna semakin mempercepat pertumbuhan ekosistemnya.

NetEase dan Activision Blizzard Berhenti Kerja Sama, Apa Dampaknya?

Tiongkok merupakan salah satu negara dengan industri game terbesar di dunia. Menurut Statista, total pemasukan industri game di Tiongkok mencapai US$44 miliar, menjadikannya sebagai negara dengan pasar game terbesar ke-2, setelah Amerika Serikat. Sementara menurut Newzoo, Tiongkok merupakan negara dengan pasar game terbesar, dengan total pemasukan sebesar US$45,8 miliar.

Sayangnya, developer asing tidak bisa serta-merta merilis game di Tiongkok. Developer asal luar Tiongkok yang ingin meluncurkan game-nya harus bekerja sama dengan publisher lokal.

Selama belasan tahun, Activision Blizzard bekerja sama dengan NetEase untuk merilis sejumlah game mereka. Namun, belum lama ini, keduanya mengumumkan bahwa mereka tidak akan memperpanjang kontrak kerja sama mereka.

Apa yang Terjadi?

Kontrak kerja sama antara Activision Blizzard dan NetEase akan berakhir pada 23 Januari 2023. Pada 17 November 2022 lalu, keduanya mengumumkan bahwa mereka tidak akan memperpanjang kontrak kerja sama tersebut. Hal itu berarti, game-game Activision Blizzard yang dioperasikan oleh NetEase di Tiongkok akan ditutup.

Beberapa game itu antara lain Diablo III, Hearthstone, Heroes of the Storm, Overwatch, StarCraft, Warcraft III, dan World of Warcraft. Kabar baiknya, para gamers Tiongkok akan tetap bisa memainkan Diablo Immortal. Pasalnya, walaupun game itu juga ada di bawah tanggung jawab NetEase, ia dicakup dalam kontrak terpisah.

Di Tiongkok, World of Warcraft dioperasikan oleh NetEase. | Sumber: Engadget

Baik NetEase maupun Activision Blizzard mengungkapkan alasan mereka untuk tidak melanjutkan kerja sama mereka. Activision Blizzard mengatakan, alasan mereka untuk tidak memperbarui kontrak kerja sama dengan NetEase adalah karena perjanjian kolaborasi ini tidak sesuai dengan prinsip dan komitmen perusahaan pada staf dan para pemain.

Sementara itu, NetEase menyebutkan bahwa mereka telah memberikan usaha yang terbaik saat bernegoisasi dengan Activision Blizzard demi memperpanjang kontrak kerja sama antara kedua perusahaan. “Namun, kami memiliki pendapat yang berbeda terkait beberapa poin penting dan kami tidak bisa mencapai kata mufakat,” kata CEO NetEase, William Ding, dikutip dari Kotaku. “Kami akan terus melayani para pemain kami hingga menit terakhir. Kami juga akan memastikan bahwa data dan aset pemain kami akan terlindungi.”

Menurut narasumber Bloomberg, kepemilikan atas data para pemain merupakan salah satu sumber permasalahan antara Activision Blizzard dan NetEase. Masalah lain antara keduanya adalah kepemilikan atas intellectual property (IP) game. Beberapa tahun belakangan, hubungan antara pemerintah Tiongkok dan Amerika Serikat memang tengah memanas.

Overwatch akan terdampak oleh putusnya kerja sama antara NetEase dan Activision Blizzard. | Sumber: BBC

Di LinkedIn, Simon Zhu, President of Global Investment and Partnership, NetEase, mengunggah opininya terkait putusnya kerja sama Activision Blizzard dan NetEase. Dia mengaku sangat sedih karena dia sudah menghabiskan ribuan jam di dunia StarCraft, Overwatch, dan Azeroth. Dia menyayangkan fakta bahwa semua kenangannya — beserta akun untuk memainkan game-game Activision Blizzard — akan hilang pada tahun depan.

“Suatu hari, ketika apa yang terjadi di balik layar bisa dungkapkan ke depan publik, developers dan gamers akan paham betapa besarnya kekacauan yang bisa dibuat oleh seseorang yang kurang ajar,” kata Zhu.

Dampak Putusnya Kerja Sama NetEase dan Activision Blizzard

Keputusan NetEase dan Activision Blizzard untuk tidak memperpanjang kontrak kerja sama tidak hanya memberikan dampak pada gamers di Tiongkok, tapi juga pada perusahaan.

Menurut laporan Activision Blizzard, kerja sama mereka dengan NetEase pada 2021 memberikan kontribusi sebesar 3% pada total pemasukan mereka, atau sekitar US$264 juta. Sementara itu, Niko Partners memperkirakan, kontrak dengan Activision Blizzard menyumbangkan sekitar 4-6% dari total pemasukan NetEase, atau sekitar US$550-825 juta.

Putusnya kerja sama NetEase dan Blizzard juga akan berdampak pada ekosistem esports. | Sumber; PCGamesN

Memang, kontrak ini memiliki kontribusi yang relatif kecil pada kedua perusahaan. Tapi, seperti yang disebutkan oleh Niko Partners, pemberhentian kontrak kerja sama berpotensi untuk memberikan dampak buruk pada reputasi kedua perusahaan.

Gamers yang tumbuh besar memainkan game-game Activision Blizzard mungkin akan terus mengagumi perusahaan itu. Namun, sebagian gamers Tiongkok tetap merasa khawatir bahwa keputusan Activision Blizzard untuk berhenti bekerja sama dengan NetEase akan berakhir pada hilangnya data gamers dan mengacaukan skena esports lokal.

NetEase Games mulai mengoperasikan World of Warcraft di Tiongkok pada 2009. Hal ini membantu mereka untuk membangun reputasi sebagai publisher dari game premium. Dengan cepat, World of Warcraft menjadi game PC berlisensi dengan pemasukan terbesar untuk NetEase. Dalam jangka panjang, peluncuran expansions dari World of Warcraft dan rilisnya WoW Classic mendorong pertumbuhan pemasukan NetEase.

Pada 2012, NetEase dan Activision Blizzard memperbarui kontrak mereka. Bersamaan dengan itu, NetEase juga mendapatkan hak untuk menjadi publisher dari Diablo III, yang berhasil menjadi game PC premium paling laris di Tiongkok.

Rekor Diablo III baru dipecahkan pada 2016, oleh Overwatch, yang juga merupakan game buatan Blizzard. Bersama Activision Blizzard, NetEase juga membuat Diablo Immortal, yang merupakan game mobile pertama untuk franchise Diablo.

Blizzard memang memutuskan untuk berhenti bekerja sama dengan NetEase. Namun, hal itu bukan berarti mereka akan keluar dari Tiongkok. Kemungkinan, mereka akan mencari rekan publisher baru untuk menggantikan NetEase. Blizzard bahkan sudah membuat pernyataan bahwa mereka tengah mencari cara agar game yang mereka buat tetap bisa dimainkan oleh gamers Tiongkok. Sayangnya, saat ini, masih belum diketahui apa rencana Activision Blizzard.

Berdasarkan regulasi di Tiongkok, setiap game yang hendak diluncurkan harus melalui inspeksi dari pemerintah dan dioperasikan oleh publisher lokal. Game yang lolos pemeriksaan akan mendapatkan ISBN. Jika Activision Blizzard ingin mencari rekan publisher baru, mereka harus kembali mengajukan game mereka untuk diinspeksi oleh pemerintah.

Mengingat game-game Activision Blizzard sudah pernah diluncurkan di Tiongkok, proses pengajuan inspeksi ini bisa dipercepat. Meskipun begitu, proses perizinan peluncuran game baru tetap membutuhkan waktu sekitar beberapa bulan.

Setelah meninggalkan NetEase, Niko Partners memperkirakan, Activision Blizzard akan menggandeng Tencent. Sebelum ini, Activision Blizzard telah bekerja sama dengan Tencent untuk membuat dan merilis Call of Duty: Mobile.

Tak hanya itu, Tencent juga punya channel distribusi yang luas dan mereka memiliki pengalaman dalam mengoperasikan franchise buatan developer asing. Selain Tencent, publisher lain yang mungkin diajak kerja sama oleh Activision Blizzard adalah Perfect World, Shengqu Games, dan Kingsoft.

Pokémon Go Diluncurkan dalam Bahasa Indonesia, Gelar Waktu Indonesia Nangkep

Siapa yang tidak kenal dengan game Pokémon Go? Game mobile yang satu ini memang sudah menjadi favorit semenjak pertama kali diluncurkan pada tahun 2016 yang lalu. Hal tersebut dikarenakan game ini memperkenalkan cara bermain yang baru pada sebuah smartphone, di mana kita bisa menangkap Pokémon secara real time pada lokasi yang nyata pula. Dan kali ini Pokémon Go sudah ditranslasikan ke beberapa bahasa, termasuk Indonesia.

Niantic selaku perusahaan yang mengeluarkan game Pokemon Go pun mengadakan acara pada tanggal 30 November 2022. Acara yang diadakan pada Grand Ballroom hotel Kempinski ini meluncurkan Pokemon Go dalam bahasa Indonesia. Hal ini tentu saja bakal menambah kenyamanan bagi orang Indonesia dalam memainkan game tersebut. Selain itu, Pokemon Go juga ditranslasikan ke hingga 16 bahasa lainnya.

Omar Tellez selaku VP of Niantic Inc mengtakan bahwa mereka sangat yakin terhadap pertumbuhan pesat dunia permainan di Indonesia dan percaya bahwa Indonesia merupakan pasar penting bagi Pokémon Go maupun Niantic. Beliau juga mengatakan bahwa hal ini tentunya akan membuat kendala bahasa saat bermain menjadi sirna. Omar juga mengatakan bahwa Indonesia merupakan pasar yang penting bagi Niantic sehingga mereka ingin bahwa semua orang bisa bermain Pokémon Go, baik saat sedang di Jakarta mau pun di Bali.

Selain meluncurkan game dengan bahasa Indonesia, Niantic juga mengumumkan kerjasama mereka dengan beberapa vendor di Indonesia. Vendor-vendor tersebut termasuk Telkomsel, ShopeePay, Chatime, dan Indomaret. Omar juga mengatakan bahwa mereka bakal menambah lebih banyak mitra lagi di waktu mendatang.

Chatime juga mengumumkan hal yang cukup menarik pada kerjasama mereka kali ini. Pihak Chatime mengatakan bahwa mulai saat ini, Pokestop akan tersedia pada setiap cabang minuman boba ini. Hal ini juga sebagai salah satu cara Niantic untuk membuat para trainer Pokemon untuk bisa terhindar dari kecelakaan saat bermain Pokémon Go.

Niantic yang bekerja sama dengan AKG Entertainment juga bakal menggelar acara khusus untuk para Pokemon Trainer di Indonesia dengan nama Waktu Indonesia Nangkep. Acara ini bakal digelar mulai tanggal 30 November 2022 hingga 8 Januari 2023. Untuk tempatnya, acara ini nantinya dihelat pada area Pantai Indah Kapuk. Tentunya di sana bakal banyak Pokemon yang bisa ditangkap dengan menyelesaikan misi.

Ada 2 misi yang akan digelar, yaitu Penelitian Lapangan dan Penelitian Berwaktu. Jika misi Penelitian Lapangan diselesaikan, Pokemon Trainer bakal menemukan Bulbasaur, Charmander, atau Squirtle, atau menerima Permen Bulbasaur, Charmander, atau Squirtle dan Energi Mega Venusaur, Charizard, atau Blastoise. Untuk misi Penelitian Berwaktu, bisa memberikan kesempatan bertemu Lapras, Snorlax dan juga menerima hadiah item seperti Serpihan Bintang, Permen Langka dan Mesin Penetas Super jika selesai dalam sebelum 8 Januari 2023 jam 20.00.

Sejarah Windows, Penopang Kemajuan Teknologi Modern Manusia

Saat ini nama Windows mungkin telah menjadi sinonim dari sistem operasi standar untuk komputer dan laptop di seluruh dunia. Entah itu komputer rumahan atau bisnis, mayoritas menggunakan sistem operasi gagasan dari Bill Gates ini.

Semuanya kembali ke 40 tahun yang lalu, ketika Bill Gates dan Paul Allen bersama-sama mewujudkan ambisi besarnya untuk dapat menyediakan komputer pribadi bagi setiap orang di setiap rumah. Sebagai gambaran, di era 1980-an dulu komputer hanya digunakan di industri besar dan kantor-kantor saja.

Dan kini, lebih dari 76% komputer dan laptop di seluruh dunia menggunakan Windows sebagai sistem operasinya menurut Statista.com. Dan dominasi Windows ini sudah bertahan selama bertahun-tahun. Berikut adalah sejarah dan perkembangan Windows dari masa ke masa.

Masa awal pendirian Microsoft dan pengembangan Windows versi pertama (1975-1989)

Sejarah Windows
Image Credit: Microsoft

Jauh sebelum menjadi penguasa sistem operasi, Microsoft awalnya berdiri sebagai perusahaan pembuat program komputer untuk sistem operasi MS-DOS. Setelah cukup lama bermain sebagai pembuat program, Bill Gates dan Paul Allen mulai masuk ke bisnis OS atau sistem operasi pada 1980.

Pada 1983, Microsoft berhasil membuat sistem operasi pertama mereka yang saat itu diberi nama Interface Manager. Microsoft baru mengganti nama sistem operasi mereka menjadi Windows 1.0 secara resmi pada perilisan tahun 1985. Microsoft juga meluncurkan Windows 2.0 pada 1987 dengan beberapa perubahan signifikan.

Sayangnya, sistem operasi pertama milik Microsoft tersebut masih belum mampu menarik perhatian banyak orang. Namun, mereka telah berada di jalan yang tepat untuk membuat sebuah sistem operasi yang bisa diterima oleh pengguna perseorangan.

Pengembangan fitur-fitur sistem operasi Windows (1990-1994)

Sejarah Windows
Image Credit: Microsoft

Guna bersaing dengan Apple yang kala itu berhasil mencuri perhatian lewat Macintosh, Microsoft mulai memasukkan elemen grafis untuk membuat OS-nya lebih menarik. Hasilnya, pada 1990 mereka merilis Windows 3.0 yang pertama kali memiliki ikon untuk software dan file.

Dengan penerapan virtual memory, sistem operasi ini mampu menjalankan lebih banyak aplikasi secara bersamaan. Windows juga akhirnya mendapat game pertama mereka di sistem operasi ini, yaitu Solitaire dan Minesweeper.

Berkat berbagai pengembangan fitur tersebut, Windows akhirnya mulai diadaptasi banyak pengguna PC personal. Melalui Windows 3.0 dan Windows 3.1, Microsoft untuk pertama kalinya berhasil mencetak rekor penjualan sistem operasi hingga jutaan kopi.

Masa awal kepopuleran Windows mengalahkan DOS (1995-2000)

Sejarah Windows
Image Credit: Microsoft

Lompatan popularitas Windows terus berlanjut ketika dunia bersiap memasuki milenium baru. Microsoft yang terus mendorong kemampuan sistem operasinya, baik dari sisi performa dan tampilan akhirnya berhasil menyalip sang induk, yaitu DOS.

Kemenangan besar Microsoft sendiri dikarenakan hadirnya fitur Start menu, taskbar, dan Windows Explorer. Fitur-fitur pengatur file dan aplikasi tersebut ini memberikan pengalaman pengguna yang revolusioner dan menempatkan Windows 95 sebagai sistem operasi favorit banyak orang.

Microsoft juga merilis Windows 98 yang ditujukan untuk memberikan sedikit penyegaran terhadap tampilan sistem operasinya, sekaligus memberikan beberapa fitur baru seperti dukungan multi‚Äďmonitor. Sayangnya penyegaran terakhir yaitu Windows Me pada 1999 malah banyak mendapat kritikan karena ketidakstabilannya.

Revolusi Windows XP yang paling dicintai penggunanya (2001-2006)

Sejarah Windows
Image Credit: Microsoft

Dengan beralihnya Microsoft dari DOS, maka kini mereka berfokus mengembangkan sistem operasinya secara penuh melalui Windows 2000. Namun umur sistem operasi ini sangat singkat, karena pada 2001 Microsoft kembali membawa perubahan besar lewat Windows XP.

Windows XP menjadi lompatan besar lain untuk sistem operasi Windows dengan antar-muka yang semakin mudah digunakan oleh banyak pengguna. Selain tampilan, Windows XP juga membawa banyak fitur baru, antara lain adalah Windows Explorer yang diperbarui, aplikasi burner CD, dan juga hadirnya Compatibility Mode yang sangat berguna untuk aplikasi lama Windows.

Selain itu, Microsoft akhirnya juga mengalihkan update sistem operasinya dari perilisan versi baru menjadi pembaruan fitur yang langsung terjadi di dalam Windows XP. Dengan keunggulan seperti itu, tidak mengejutkan kalau Windows XP akhirnya mampu bertahan selama kurang lebih 6 tahun.

Pencarian jati diri untuk memberi gebrakan baru (2007-2012)

Image Credit: Microsoft

Setelah menikmati kesuksesan Windows XP lebih dari lima tahun, Windows pun siap memberikan evolusi terhadap sistem operasinya tersebut. Yang sayangnya tidak semudah itu, sebab produk mereka berikutnya yang dirilis di tahun 2007, Windows Vista, malah gagal total.

Meskipun membawa tampilan baru yang lebih modern, tapi Windows Vista memiliki performa yang lebih buruk dari Windows XP. Hal ini memaksa Microsoft harus kembali ke meja kerja untuk kembali memberikan berbagai improvisasi.

Selang 2 tahun setelah Vista, Microsoft pun merilis Windows 7 yang menjadi penyempurnaan dari apa yang ditawarkan oleh Vista. Sistem operasi ini secara keseluruhan lebih kencang, seimbang, dan stabil. Ditambah tampilannya juga lebih fresh yang membuat para pengguna juga menyukainya.

Pengenalan Metro UI dan integrasi mobile (2012-2014)

Image Credit: Microsoft

Dengan meningkatnya popularitas smartphone dan perangkat berlayar sentuh pada era ini, Windows pun mulai mempersiapkan sistem operasi yang mengoptimalkan hal tersebut. Maka dari itu Windows memperkenalkan Windows 8 dan juga desain Metro UI.

Microsoft kala itu memiliki ambisi besar untuk membuat semua tampilan sistem operasi di PC, tablet, dan juga smartphone yang tengah mereka kembangkan identik. Sayangnya, hal tersebut justru membawa masalah baru bagi para pengguna PC karena tampilannya yang terkesan canggung.

Hanya berselang satu tahun, Microsoft pun merilis pembaruan dengan Windows 8.1 dengan harapan beberapa penyempurnaannya akan membuat para penggunanya senang. Sayangnya ini tetap mendapat kritikan negatif, terutama karena dihapuskannya Start Menu.

Pengenalan OS Windows Terakhir [Kala Itu] (2015-2021)

Image Credit: Windows Blog

Karena gagalnya Windows 8 dan 8.1 untuk pasar PC, Microsoft pun harus terus bekerja untuk menghadirkan sistem operasi yang sesuai harapan para penggunanya. Alhasil, dengan melewatkan kode nama 9, Microsoft langsung merilis Windows 10 pada 2015.

OS ini menjadi titik kembalinya Start Menu dan juga fokus Microsoft untuk menyediakan sistem operasi yang dioptimalkan untuk PC. Alhasil, para pengguna pun sangat puas dengan semua performa, fitur, dan juga tampilan dari Windows 10.

Saking percaya dirinya Microsoft dengan Windows 10, mereka bahkan sempat mengklaim bahwa Windows 10 akan menjadi ‚Äúversi terakhir dari Windows‚ÄĚ, mengingat sistem operasi ini telah digunakan oleh lebih dari 1 miliar PC.

Kejutan Windows 11 (2021-Sekarang)

 

Image credit: Microsoft

Setelah selama 6 tahun para pengguna PC merasa nyaman dengan Windows 10, tiba-tiba Microsoft memberikan kejutan dengan hadirnya Windows 11 pada 2021 lalu. Microsoft menyebut sistem operasi barunya ini sebagai ‚Äúpembayangan ulang sebuah sistem operasi.‚ÄĚ

Meskipun begitu, Microsoft tidak benar-benar memberikan perombakan besar terhadap Windows 11 terlepas dari tampilannya yang disegarkan, serta penambahan beberapa fitur baru, termasuk yang paling menarik adalah diintegrasikannya ekosistem aplikasi Android.

Sayangnya, ada beberapa fitur dari Windows 10 yang absen dalam OS baru ini yang membuat para penggunanya memberikan respons negatif. Meskipun seiring waktu, Microsoft juga terus memberikan pembaruan dan fitur baru terhadap Windows 11 tersebut.

Bukan Seri 10, IQOO Indonesia Ajak Sneak Peek Smartphone Terbarunya

IQOO akhirnya secara resmi masuk ke pasar smartphone di Indonesia. Merek yang saat ini masih merupakan bagian dari Vivo ini ternyata langsung ingin meluncurkan perangkat terbarunya di Indonesia. Pada saat pertemuan yang lalu, IQOO Indonesia memamerkan perangkat mereka yang bernama IQOO 10 BMW Edition. Ternyata perkiraan saya salah, smartphone yang bakal diluncurkan adalah IQOO 11.

Tidak banyak yang bisa diceritakan pada saat melakukan sneak peek. Tentu saja hal tersebut dikarenakan adanya perjanjian non disclosure agreement yang membuat saya belum bisa menceritakan apa pun sampai smartphone ini resmi meluncur. Namun yang pasti, IQOO mengklaim bahwa mereka yang bakal pertama kali mendatangkan smartphone dengan cip Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 di Indonesia dengan IQOO 11.

IQOO 11 ini sendiri bakal hadir dengan dua macam desain. Desain pertama memiliki warna hitam seperti kebanyakan smartphone yang beredar saat ini. Untuk desain yang kedua, IQOO juga membuatnya memiliki garis yang menandakan bahwa perangkat ini merupakan edisi BMW Motorsport. Hal tersebut tentu saja membuat anggapan bahwa perangkat ini akan memiliki kinerja yang kencang.

IQOO nantinya bakal memilih jalan yang berbeda dengan Vivo. Robiat Fahlevi selaku Brand Marketing iQOO Indonesia mengatakan bahwa mereka akan lebih fokus ke performa yang merambah pasar premium. Berbeda dengan Vivo yang fokusnya pada perangkat lifestyle. Robiat mengatakan bahwa pasar tersebut punya pontensi besar namun belum banyak yang menggarap.

IQOO akan menjual perangkatnya untuk pertama kali melalui jaringan online. Untuk hal tersebut, IQOO bakal bekerja sama dengan 2 ecommerce ternama di Indonesia seperti Tokopedia dan Shopee. Perangkat ini sendiri akan diluncurkan secara resmi pada tanggal 8 Desember 2022. Tentunya, peluncuran tersebut akan dilaksanakan secara online sehingga semua orang bisa menyaksikannya secara langsung.

Lalu bagaimana jika ada masalah dengan perangkat IQOO yang dijual di Indonesia? IQOO masih akan menggunakan jaringan purna jual dari Vivo. Hal tersebut akan membuat konsumen menjadi lebih mudah untuk melakukan servis.

Sayang memang, belum banyak yang bisa dibicarakan dari segala sisi untuk perangkat yang satu ini. Informasi lengkap baru bisa didapatkan saat IQOO meluncurkan perangkat ini. Jadi, tunggu saja kehadiran smartphone premium dengan kinerja tinggi yang satu ini di Indonesia. Tidak lama lagi kok.

Overwatch 2 Perkenalkan Ramattra, Hero Tank Baru dengan Dua Wujud Gahar

Setelah disinggung beberapa kali, Blizzard akhirnya merilis penuh detail hero terbaru di Overwatch 2, Ramattra. Menurut developer, Ramattra merupakan Hero “Tempo Tank” pertama di Overwatch, yang artinya ia mampu berubah wujud setiap saat.¬†Ramattra akan menjadi¬†hero¬†Tank ke-11 pada Overwatch 2.

Ramattra memiliki dua wujud, yaitu Omnic Form dan Nemesis Form, dengan Omnic Form sebagai wujud pertama ketika memulai game. Perubahan wujud ini merupakan skill pertama dari Ramattra.

Setelah berhasil mengganti wujud, skill ini akan memasuki cooldown yang akan berjalan selama 8 detik, sehingga dibutuhkan strategi yang tepat untuk kondisi yang dibutuhkan.

Perbedaan mendasar dari Omnic Form dan Nemesis Form adalah pada bagian Primary Fire dan Secondary Fire-nya, sedangkan skill lain dan Ultimate-nya dapat digunakan tanpa memandang kedua Form tersebut.

Omnic Form memampukan Primary Fire Ramattra untuk menyerang dari jauh dengan tongkatnya, dan Secondary Fire-nya mampu menghasilkan shield di area kecil. Shield tersebut bisa digunakan untuk melindungi Ramattra dan juga rekan lainnya.

Ketika berada di Nemesis Form, Ramattra akan mendapatkan bonus Armor, lalu serangan Ramattra akan memiliki properti piercing, yaitu ia akan memberikan damage kepada musuh yang berada dalam posisi linear. Serangan ini akan tetap tembus walaupun musuh tersebut berada di belakang shield.

Secondary Fire Ramattra pada Nemesis Form akan diganti dengan damage block, yang akan mengurangi damage yang diterima Ramattra dari depan. Ketika skill ini digunakan, pergerakan Ramattra akan menjadi lebih lambat.

Blokade damage ini hanya melindungi Ramattra saja. Walaupun ia akan menjadi sangat keras, sisi belakangnya bisa diserang dengan mudah.

Selain skill perubahan wujud, skill lain yang dimilikinya adalah Ravenous Vortex. Ketika digunakan, Ramattra akan menandai sebuah area, yang akan memberikan damage, melambatkan musuh, serta menarik mereka ke tanah. Skill ini mampu mengikat hero-hero yang mampu terbang atau melompat, seperti Pharah dan Winston.

Lalu dengan Ultimate-nya, Ramattra akan seketika berubah menjadi Nemesis Form, lalu ia akan memancarkan energi di sekitarnya. Ketika ada musuh yang masuk ke jarak pancaran ini, musuh tersebut akan terus menerus menerima damage. Yang menjadi unik adalah, ketika pancaran energi ini mengenai musuh, durasinya akan dihentikan, sehingga ia mampu menghisap HP musuh dengan durasi yang tak terhingga. Cara menangkal kemampuan ini adalah dengan menghindari Ramattra atau mengalahkannya.

Ramattra akan hadir pada Season 2, yang diperkirakan akan rilis pada 7 Desember 2022.

AMD Umumkan Seri 7020 Di Indonesia, Dimulai dari Ryzen 3 7320u

AMD kembali memperkenalkan prosesor terbarunya yang digunakan untuk laptop. Jajaran seri terbarunya ini nantinya akan menggantikan Ryzen 3 3250U yang saat ini cukup banyak digunakan oleh laptop entry level. AMD menamakan seri terbaru prosesornya ini dengan nama AMD 7020 series. Acara perkenalan tersebut diadakan pada ballroom hotel Akmani Jakarta pada tanggal 29 November 2022.

Prosesor yang pertama akan muncul di Indonesia adalah AMD Ryzen 3 7320U. Seri prosesor ini masih menggunakan arsitektur Zen 2. Dalam prosesor itu pula, AMD juga sudah membenamkan grafis terintegrasi dengan nama AMD Radeon 610M yang memiliki basis arsitektur RDNA 2. Arsitektur ini sendiri dikenal dapat memainkan beberapa game dengan setting rendah namun bisa mendapatkan framerate yang cukup baik.

AMD seri 7020 diproduksi pada pabrik TSMC dengan proses pabrikasi 6nm. Hal ini diklaim oleh AMD Indonesia yang membuat prosesor ini lebih irit saat digunakan. Laptop yang menggunakan AMD seri 7020 akan memiliki daya tahan baterai hingga 12 jam. Kinerjanya bahkan diklaim menyamai Ryzen 7 2700U yang pernah menjadi yang cukup kencang pada waktunya.

AMD Seri 7020 yang bakal diluncurkan di Indonesia akan meliputi model pada tabel berikut ini.

Model  Cores/ Threads  Boost Frequency   Base Frequency Total Cache (MB)  TDP (Watts)  GPU Model
AMD Ryzen 5 7520U 4C/8T‚ÄĮ¬† Up to 4.3 GHz 2.8 GHz 6 MB 15 W AMD Radeon 610M
AMD Ryzen 3 7320U 4C/8T‚ÄĮ¬† Up to 4.1 GHz 2.4 GHz 6 MB 15 W AMD Radeon 610M
AMD Athlon Gold 7220U 2C/4T Up to 3.7 GHz 2.4 GHz 5 MB 15 W AMD Radeon 610M

Prosesor ini juga sudah memiliki beberapa fitur penting yang dibutuhkan pada saat ini. Salah satunya adalah fitur keamanan untuk Windows 11 dengan nama Microsoft Pluton. Selain itu, AMD 7020 juga sudah memiliki fitur modern standby, Wake on Voice, Fast Charging, serta dukungan terhadap LPDDR5. AMD juga mengklaim bahwa prosesor pada seri ini mampu menjalankan aplikasi dengan kecepatan 31% bila dibandingkan dengan pesaingnya.

Donnie Brahmandika selaku manajer produk dan retail AMD Indonesia mengatakan bahwa prosesor ini juga cukup baik saat dipakai untuk bermain game. Tentunya, bermain game pada prosesor ini harus menggunakan setting yang rendah. Namun, beliau mengatakan bahwa untuk game seperti CS:Go dan Valorant masih bisa dijalankan tanpa lag. Jadi, laptop dengan prosesor ini juga mampu dipakai untuk kebutuhan hiburan selain untuk perkantoran.

Prosesor ini tentu saja bakal hadir sebentar lagi. ACER, HP, ASUS, dan Lenovo akan menyediakan laptop dengan AMD Ryzen 3 7320u dengan harga mulai dari Rp. 6.499.000. Perangkat-perangkat tersebut sudah dijual mulai pada kuartal ke 4 tahun 2022. Jadi, seharusnya saat ini laptop tersebut sudah bisa dibeli.

Sukses di Solana, Crypto Wallet Phantom Ekspansi ke Ethereum dan Polygon

Kondisi ekosistem Web3 saat ini cenderung terfragmentasi. Saat mendalami hobi NFT, pengguna akan dihadapkan dengan berbagai opsi blockchain, dan dengan perbedaan blockchain, datang pula perbedaan marketplace maupun crypto wallet. Tentu tidak selamanya harus seperti itu, sebab wacana multichain santer disuarakan oleh para pemain dunia Web3, seperti contohnya marketplace NFT OpenSea yang aktif menambahkan dukungan blockchain-nya.

Contoh lainnya adalah Phantom Wallet. Crypto wallet nomor satu untuk blockchain Solana itu baru saja mengumumkan ekspansi ke dua blockchain lain, yakni Ethereum dan Polygon. Per hari ini, para pengguna Phantom sudah bisa menyimpan NFT yang di-mint di blockchain Ethereum dan Polygon, serta tentu saja mata uang ETH dan MATIC.

Lewat sebuah posting blog, Phantom menjelaskan bahwa kehadiran self-custodial wallet seperti bikinan mereka sangatlah penting dalam kondisi sekarang. Meski tidak disebutkan secara langsung, namun besar kemungkinan kondisi yang dimaksud adalah semakin berkurangnya kepercayaan konsumen terhadap centralized exchange, terutama setelah kasus yang menimpa FTX.

Dengan mendukung Solana, Ethereum, dan Polygon sekaligus, Phantom tentu punya potensi untuk memperluas basis penggunanya. Sementara itu, pihak pengguna sendiri juga bakal diuntungkan karena mereka tidak perlu repot-repot mengatur akun crypto wallet yang berbeda di blockchain yang berbeda pula.

Kenapa Ethereum dan Polygon? Karena Ethereum masih merupakan blockchain dengan ekosistem NFT terbesar sampai detik ini, sementara Polygon sendiri merupakan sidechain Ethereum yang mengutamakan efisiensi, kecepatan, sekaligus biaya transaksi yang rendah.

Sebagai informasi, Magic Eden ‚ÄĒ yang notabene merupakan marketplace NFT nomor satu Solana ‚ÄĒ baru-baru ini juga mengumumkan rencana untuk mengintegrasikan blockchain Polygon, setelah sebelumnya resmi berekspansi ke Ethereum. Ditambah dengan langkah Phantom ini, kita seakan bisa melihat pola yang serupa: tumbuh besar dan mendominasi di Solana, lalu melebarkan sayap ke ekosistem yang lebih besar lagi.

Spesifik untuk Polygon, Phantom bilang bahwa timnya telah bekerja sama langsung demi mewujudkan pengalaman yang terbaik, yang sejalan dengan roadmap teknologi Polygon. Polygon sendiri belakangan semakin naik daun setelah dipercaya oleh banyak brand besar yang hendak masuk ke Web3, mulai dari Meta, Reddit, Nike, sampai Starbucks.

Via: Decrypt.