Review Vivo V29 5G, Tampil Premium dan Bagian Dalamnya Berubah

Tak terasa, sudah setengah tahun sejak vivo Indonesia meluncurkan vivo V27 Series yang hadir dengan pembaruan besar-besaran. Kini vivo V29 5G telah resmi dijual di Indonesia, harganya sama mulai dari Rp5.999.000 untuk konfigurasi memori 8GB/256GB. Datang sendirian, tanpa ditemani dengan model Pro maupun SE.

Dari luar, penampilan vivo V29 5G tampak identik dengan V27 5G. Mengusung desain layar 3D Curved Screen yang melengkung di kedua sisi sampingnya dan modul kamera belakang dilengkapi Aura Light Portrait. Nah yang sangat berbeda ialah bagian dalamnya, dapur pacu dan sensor gambar pada kamera utama vivo V29 5G telah berubah.

Seperti apa perubahannya? Langsung saja simak review vivo V29 5G sampai tuntas berikut ini.

Sensor Gambar ISOCELL GN5

Review-Vivo-V29-5G-Kamera-2

Di atas kertas, konfigurasi kamera pada vivo V29 5G terlihat tidak mengalami perubahan besar. Bagian belakang masih terdapat tiga unit kamera, yaitu kamera utama 50MP OIS + 8MP ultrawide + 2MP monochrome dan kamera depan 50MP dengan AF.

Lebih detail, kamera utama 50MP pada vivo V29 5G berukuran 1/1,56 inci dengan piksel 1 µm dan berpadu dengan lensa wide 24mm yang dilengkapi aperture f/1.88, PDAF, dan OIS. Hal yang mengejutkan ialah sensor gambar yang digunakan bukanlah Sony IMX766, tetapi digantikan dengan Samsung ISOCELL GN5.

Keduanya merupakan sensor gambar flagship, ISOCELL GN5 juga bisa dijumpai pada iQOO 11, Galaxy S23, dan S23+. Ini seharusnya bisa menjadi salah satu keunggulan utama, tetapi vivo lebih mengedepankan fitur Aura Light Portrait. Seperti biasa dengan memanfaatkan kekuatan Tetrapixel (4-in-1), maka foto yang diberikan beresolusi 12,5MP tetapi punya ukuran piksel lebih besar 2 μm.

Kamera 8MP dengan lensa ultrawide 16mm f/2.2 tidak berubah, menggunakan sensor OmniVision OV08D1 1/4 inci dengan piksel 1,12 µm. Sedangkan keberadaan kamera 2MP macro-nya digantikan sensor kedalaman monochrome. Pindah ke depan ada satu unit sensor ISOCELL JN1 50MP 1/2,76 inci dengan piksel 0,64µm, bersama lensa 24mm f/2.45 dan mendukung PDAF. Berikut hasil foo vivo V29 5G:

Aplikasi kameranya menawarkan fitur dan mode pengambilan gambar yang cukup lengkap. Mode Photo utamanya didukung berbagai fitur seperti Auto HDR, Natural Color, Filter, dan sebagainya. Khusus mode Portrait dilengkapi Styles untuk foto portrait, Beauty, Postures, dan Bokeh. Sedangkan mode Pro ada fitur Raw dan Bracketing untuk mengambil beberapa gambar dengan pengaturan berbeda.

Fitur unik yang ditonjolkan oleh vivo ialah Aura Light Portrait with Smart Lighting Control. LED flash berbentuk cincin ini mampu menerangi dari berbagai sudut dengan pencahayaan merata 360 derajat, area paparan cahaya 9x lebih besar, dan kecerahannya meningkat 36%.

Biar foto portrait di malam hari lebih natural, tersedia opsi Aura Light always on yang dapat secara otomatis menyesuaikan suhunya tergantung pada cahaya sekitar dan juga dapat disesuaikan secara manual. Cukup menarik diterapkan untuk video, tetapi tidak bisa digunakan lama-lama karena akan otomatis mati ketika suhu smartphone mulai naik.

Untuk perekam videonya, kamera depan dan belakang vivo V29 5G dapat menghasilkan video hingga resolusi 4K 30fps atau 1080p hingga 60fps. Bagi yang suka bikin video pendek, kalian bisa mencoba mode Micro Movie untuk mengambil video vertikal dengan berbagai template menarik.

Ditenagai Snapdragon 778G 5G

Review-Vivo-V29-5G-1

Bila vivo V27 5G ditenagai chipset 5G kelas menengah terbaru MediaTek, yaitu Dimensity 7200 (4 nm) dengan basis CPU yang lebih baru. Untuk vivo V29 5G dialihkan menggunakan Qualcomm Snapdragon 778G 5G (6 nm) dari tahun 2021. Mari bandingkan saja spesifikasinya:

Ya, dari dulu saya kurang suka dengan sisi ketidakkonsistenan vivo, karena bisa bikin bingung konsumen dalam memilih. Walaupun bukan model chipset Snapdragon 7 Series terbaru, kombinasi prosesornya masih mampu memberikan performa yang solid. Ditambah AI Engine generasi keenam dengan performa hingga 12 TOPS dan Triple ISP Spectra 570L.

Berikut hasil benchmark vivo V29 5G:

  • AnTutu 10 615.535
  • 3DMark Wild Life 2.470
  • 3DMark Wild Life Extreme 693
  • PCMark Work 3.0 8.564
  • Geekbench 6 Single-core 1.031
  • Geekbench 6 Multi-core 2.980
  • Geekbench 6 GPU Compute 2.138

Unit review vivo V29 5G yang saya uji memiliki RAM 8GB LPDDR4X, ditambah Extended RAM hingga 8GB. Ruang penyimpanannya memakai tipe UFS 2.2 dengan kapasitas 256GB, tanpa dukungan slot kartu microSD. Secara keseluruhan, performa smartphone ini sangat mulus dan cocok untuk penggunaan sehari-hari.

Sistem operasi yang berjalan Android 13 dengan sentuhan Funtouch OS 13 yang dijanjikan akan mendapatkan dua peningkatan OS dan pembaruan keamanan selama tiga tahun. Kapasitas baterainya 4.600 mAh, didukung pengisian daya lebih cepat 80W FlashCharge yang dapat mengisi 50% dalam 18 menit.

Bagaimana dengan pengalaman bermain game-nya? Chipset Snapdragon 778G 5G ini beberapa fitur Snapdragon Elite Gaming seperti Variable Rate Shading dan Game Quick Touch yang dioptimalkan vivo dengan Ultra Game Mode. Saat sedang bermain game, kita bisa memunculkan Game Sidebar yang menawarkan rangkaian fitur pendukung gaming termasuk mode Boost dan Esports, serta kemudahan merekam gameplay.

Layar AMOLED 1,5K 120Hz

Review-Vivo-V29-5G-Layar-4

Peningkatan tak terduga di vivo V29 5G terjadi pada aspek desain dan layar. Meskipun tampangnya mirip seperti V27 5G, dengan 3D Curved Screen berukuran 6,78 inci dalam aspek rasio 20:9, panel AMOLED yang digunakan memiliki resolusi lebih tinggi yaitu 1,5K atau 1.260×2.800 piksel dengan kerapatan 452 ppi, artinya lebih tajam dari kebanyakan smartphone saat ini.

Selain itu, spesifikasi layar lainnya juga menjanjikan. Termasuk kemampuan menampilkan 1,07 miliar spektrum warna, cakupan gamut warna DCI-P3, dukungan HDR10+, dan tingkat kecerahan maksimum 1.300 nits. Ditambah refresh rate 120Hz dan layarnya sangat responsif berkat touch sampling rate di angka 1.000Hz.

Buat nonton film dan gaming sudah pasti puas, termasuk untuk mendukung kegiatan kreatif seperti mengedit foto atau color grading video dengan warna akurat. Layar vivo V29 5G juga memiliki frekuensi tinggi peredupan PWM 2.160Hz dengan peredupan yang halus 16.000 level.

Pergi ke pengaturan layar, pengguna bisa menjumpai rangkaian fitur seperti Screen Colors yang meliputi Standard, Pro, dan Bright dengan color temperature yang bisa disesuaikan. Kemudian ada Eye Protection yang intensitasnya bisa diatur dan dijadwalkan, opsi refresh rate Smart Switch, hingga Visual Enhancement.

Bodi Ramping Tahan Air

Review-Vivo-V29-5G-Kamera-3

Saat digenggam, vivo V29 5G terasa sangat tipis bahkan ketika mengenakan case bawaannya. Berkat lengkungan pada layar dan panel belakang yang bertemu dalam bingkai tipis di bagian samping. Menurut saya, desain premiumnya ini sekelas perangkat flagship dan build quality-nya juga solid.

Hal yang juga sama sekali tidak terduga ialah bodi smartphone dengan ketebalan 7,5 mm dan berat 186 gram ini sudah mengantongi sertifikasi IP54. Ini berarti pengguna mendapatkan perlindungan ekstra dalam pemakaian sehari-hari terhadap percikan air dan tebaran debu.

Unit review vivo V29 5G yang saya pegang berwarna Velvet Red, menariknya setiap warna memiliki sentuhan akhir yang berbeda. Khusus yang satu ini, penampang belakangnya dikemas menggunakan proses Fluorite AG dengan Nano-Scale Photoetching dan Color Changing yang dapat berubah warna saat terkena sinar UV.

Menuju ke sekelilingnya, di sebelah kanan dapat dijumpai tombol power dan volume, sedangkan sisi kiri polos. Di atas, ada tulisan ‘Profesional Portrait‘ dan mikrofon sekunder. Sisanya di bawah meliputi SIM tray dengan dua slot nano SIM, mikrofon utama, port USB-C, dan satu-satunya speaker. Sensor sidik jarinya berada di bawah permukaan layar dan juga punya NFC.

Verdict Review vivo V29 5G

Review-Vivo-V29-5G-Layar-1

Dari model vivo V25 5G ke vivo V27 5G, peningkatan yang dibawanya sangatlah signifikan. Dengan basis vivo V27 5G, vivo V29 5G juga dengan mudah menjadi salah satu smartphone terbaik di kelas menengah. Kombinasi fitur dan spesifikasi dengan harganya bagus, perangkat ini bisa didapatkan mulai dari Rp5.999.000.

Selain mengusung peningkatan seperti resolusi layar lebih tinggi, bodi tahan air, dan pengisian daya lebih cepat, perubahan besar juga terjadi pada dapur pacu dan sensor gambar kamera utamanya. Entah kenapa, vivo mengganti chipset Mediatek Dimensity 7200 (4 nm) pada V27 5G dengan Qualcomm Snapdragon 778G 5G (6 nm) di V29 5G.

Walaupun dari segi basis teknologi prosesornya lebih lawas, kabar baiknya secara keseluruhan performa vivo V29 5G dengan Snapdragon 778G 5G masih sangat solid. Sedangkan kamera utamanya beralih ke Samsung ISOCELL GN5 dari Sony IMX766, ini juga bukan masalah karena keduanya merupakan sensor gambar flagship.

Vivo V29 5G juga tersedia dalam konfigurasi RAM 12GB dengan penyimpanan ekstra lega 512GB seharga Rp6.999.000, sedangkan konfigurasi dasar 8/256GB dijual Rp5.999.000. Jika skenarionya adalah vivo V27 5G turun harga menyentuh Rp5 juta, maka justru akan membuat vivo V27 5G tetap terlihat menarik di samping vivo V29 5G.

Sparks

  • Kamera utama 50MP dengan sensor gambar ISOCELL GN5
  • Fitur unggulan Aura Light Portrait ditingkatkan
  • Baterai 4.600 mAh dengan 80W FlashCharge
  • Layar AMOLED 120Hz lengkung dengan resolusi lebih tinggi 1,5K
  • Bodi tahan air dengan peringkat IP54

Slacks

  • Chipset Dimensity 7200 (4 nm) digantikan dengan Snapdragon 778G 5G (6 nm) dengan basis CPU lebih lawas
  • Hanya dibekali satu speaker saja

 

Zenfone 10 Bakal Diluncurkan di Indonesia, Desain Masih Sama

Seperti biasa, ASUS selalu membawa para jurnalis untuk melakukan sneak peek pada produk barunya. Setelah diluncurkan secara global, giliran Indonesia yang bakal mendapatkan smartphone terbaru mereka. Pada tanggal 29 September 2023, ASUS mengadakan acara di The Neighborhood Jakarta untuk memperlihatkan smartphone Zenfone 10.

Hal pertama yang digaungkan oleh ASUS pada perangkat terbarunya ini adalah penggunaan SoC Snapdragon 8 Gen 2 yang tentu saja lebih kencang dari yang digunakan pada Zenfone 9. Selanjutnya adalah desain Zenfone 10 yang ternyata sama dengan Zenfone 9 sehingga cukup sulit untuk membedakan keduanya. Hal tersebut dikarenakan memang ASUS ingin membuat desain 2 ring kamera di bagian belakangnya menjadi ciri-ciri dari perangkat Zenfone. Selain itu, model compact juga sudah pasti akan diteruskan pada perangkat-perangkat selanjutnya.

Jimmy Lin, ASUS Regional Director Southeast Asia menjelaskan bahwa tahun ini ASUS memperkenalkan ASUS Zenfone 10 di Indonesia. Di mana smartphone ini adalah wujud komitmen ASUS dalam memberikan teknologi terdepan kepada masyarakat Indonesia. Dengan daya, gaya, dan inovasi yang dihadirkan oleh Zenfone 10, ASUS yakin dapat menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan bagi para pengguna di Indonesia. Dengan desain compact namun bertenaga, didukung oleh chipset Snapdragon 8 Gen 2 Mobile Platform terbaru, serta kemampuan multitasking yang lancar, Zenfone 10 terbaru akan membawa pengalaman yang tak tertandingi.

Lin menambahkan bahwa sistem kamera yang disempurnakan di dalam satu gengaman memberikan hasil yang luar biasa, sementara fitur cerdas yang lebih canggih akan meningkatkan setiap aspek pengalaman para pengguna. Hal ini berarti bahwa fokus utama Zenfone 10 akan berada pada hasil kameranya. ASUS juga mengklaim bahwa ketika mengambil foto dalam kondisi minim cahaya atau pengambilan foto profesional, sistem kamera Zenfone 10 memberikan hasil yang lebih baik.

ASUS juga menambahkan beberapa fitur baru pada perangkat yang satu ini. Salah satu yang cukup menarik adalah hadirnya wireless charging yang membuat perangkat ini menjadi lebih menarik dibandingkan sebelumnya. ASUS juga menjanjikan beberapa pembaruan yang akan diinformasikan pada saat acara peluncurannya.

Acara peluncuran Zenfone 10 akan disiarkan secara online. Pada tanggal 29 September 2023 pukul 19.00 WIB di kanal resmi YouTube dan Facebook ASUS Indonesia akan disiarkan peluncuran Zenfone 10 di Indonesia. Oleh karena itu, mari kita tunggu kehadirannya.

DynaStones Rilis di Indonesia, Majamojo Siapkan Ekosistem Esports

PT Games Karya Nusantara (Majamojo) telah meluncurkan koleksi mobile game terbaru bergenre MOBA Battle Royale, DynaStones di Indonesia. Game ini tersedia di Android dan iOS.

DynaStones menghadirkan dua mode bermain, yaitu Solo dan Squad. Setiap pemain bisa memilih 17 unique hero dengan beragam role. Permainan berjalan dalam waktu lebih singkat 10-15 menit.

Majamojo juga berkomitmen untuk memperkuat ekosistem Esports di Indonesia. Mereka menargetkan terbentuknya 250 pertandingan DynaStones di seluruh Indonesia setiap bulan.

DynaStones juga mengimplementasikan unsur kearifan lokal, seperti karakter Taykan yang merupakan seekor badak yang terinspirasi dari hewan endemi Indonesia. Majamojo juga memperkenalkan skin batik untuk karakter Abel dan Unnamed.

Fokus Majamojo ke depannya adalah meningkatkan penetrasi pasar, membawa DynaStones menjadi salah satu cabang Esports di Tanah Air hingga global, dan mendorong pertumbuhan industri esports secara di Indonesia.

Dikutip dari rilis, Yudi Chahyadi Anwar, Chief Executive Officer Majamojo mengatakan, “Saat ini Esports tumbuh secara positif dan berkembang pesat. Kami sebagai publisher game nasional ingin membawa penyegaran baru bagi para penikmat game bergenre MOBA dan Battle Royale.”

“Para gamers bisa menikmati dua genre di dalam satu game yang sama, yaitu DynaStones. DynaStones merupakan langkah Majamojo untuk mewujudkan komitmen menghadirkan pemain esports baru dari talenta-talenta anak bangsa. Kami juga tengah menargetkan DynaStones menjadi salah satu cabang olahraga Esports di Indonesia.

MOBA sendiri menjadi genre game paling popoler berdasarkan survei Telkomsel. Ini menjadi salah satu latar belakang kehadiran game ini serte rencana pengembangan komunitas esports dari DynaStones.

Sebagai informasi tambahan tentang DynaStones:

DynaStones menawarkan pengalaman baru berupa pertarungan sengit MOBA dengan strategi bertahan hidup ala Battle Royale. Game ini hadir dengan dua mode bermain, yaitu Solo (1vs20) dan Squad (3vs3 dengan 10 tim).

Selain itu, setiap pemain dapat memilih 17 karakter unik dengan berbagai peran, sehingga setiap pemain dapat menentukan strategi menyerang dan bertahan baik dalam mode Solo maupun Squad.

Dalam menghadirkan ekosistem Esports, DynaStones juga dilengkapi dengan fitur custom room dan spectator view untuk kedua mode. Setiap permainan berlangsung dalam waktu yang lebih singkat, yaitu 10-15 menit. Hal ini memberikan lebih banyak kesempatan pertandingan bagi penyelenggara, peserta, atau tim, seperti best of (BO) 3 dan 5.

DynaStones dibangun di atas teknologi terbaru di industri game, Unreal Engine 5, yang menyajikan grafis tinggi, halus, dan gameplay yang lebih menyenangkan.

Dengan resmi rilis fokus Majamojo ke depannya adalah sebagai berikut:

  • Meningkatkan penetrasi pasar, yaitu memperluas jangkauan DynaStones ke lebih banyak pemain di Indonesia dan dunia.
  • Membawa DynaStones menjadi salah satu cabang Esports di Tanah Air hingga global, yaitu mengembangkan ekosistem Esports DynaStones dan menjadikannya sebagai salah satu cabang olahraga elektronik yang populer.
  • Mendorong pertumbuhan industri Esports secara di Indonesia, yaitu berkontribusi dalam pengembangan industri Esports di Indonesia, baik dari segi infrastruktur maupun talenta.

Review Nothing Ear (2), Pengalaman Menyeluruh dari Desain dan Kualitas Suara 

Nothing Ear (2) adalah usaha Nothing untuk menghadirkan perangkat TWS bagi para penikmat audio. Ini adalah penerus Nothing Ear pertama dan Nothing Ear (Stick), yang terakhir ini bentuk desain kemasannya tidak biasa cenderung aneh. 

Berbeda dengan Ear Stick, untuk urusan desain, Nothing Ear (2), memang tetap hadir dengan pola yang mirip Ear pertama. Menghadirkan tampilan desain yang tidak biasa, cenderung mengundang decak kagum (keren), serta tampilan khas Nothing yaitu transparan dan mencoba untuk memamerkan tampilan dalam desain mereka. 

Namun, untuk urusan audio, desain dan tampilan luar bukanlah faktor utama untuk bisa menikmati dan berdecak kagum. Hasil output audio yang dihasilkannya serta fitur-fitur yang ada (karena ini TWS) yang menjadi faktor penentu, apakah Nothing Ear (2) ini layak untuk dimiliki atau tidak. 

Berikut review dari Nothing Ear (2) setelah cukup lama mencoba perangkat TWS ini, di berbagai kondisi termasuk untuk urusan meeting online saat WFA. 

Desain

Meski Nothing Ear (2) adalah perangkat audio yang notabene fokus utama fungsinya adalah untuk urusan output suara, namun akan berbeda ketika Nothing yang mengeluarkan produknya. Perusahaan ini dikenal dengan pendekatan desain atas produk yang tidak biasa dan cukup kental nuansa kreativitas atas pendekatan desain. Begitu juga dengan perangkat Nothing Ear (2). 

Pengalaman bersentuhan dengan elemen desain sudah hadir dari kotak pembungkus perangkat, ketika dibuka maka Anda akan disuguhi oleh sebuah perangkat audio yang memiliki tampilan cukup mencuri perhatian. 

Tampilan transparan dari TWS Nothing Ear (2) ini menjadi semacam ciri khas dari perangkat. Anda bisa melihat secara langsung kedua earpiece dengan layout pengisian daya di casing-nya.

Tidak hanya itu, kesan tembus pandang juga masih hadir di desain earpiece baik kiri dan yang kanan. Anda kembali bisa melihat berbagai elemen dan bagian perangkat yang tersusun rapi. Ini seperti menjelajah karya para engineer dan desainer Nothing dan kita bisa berinteraksi langsung dengan karya tersebut. 

Untuk kelengkapan perangkat sendiri, selain kotak yang tidak terlalu besar, ada case transparan, sepasang earpiece, lalu ada eartips berbagai ukuran, kabel usb type-c dan tentu saja, elemen penjelasan produk dengan desain khas Nothing. 

Elemen desain ini memang menjadi semacam daya jual dari berbagai produk Nothing, tidak terkecuali produk TWS mereka yang notabene adalah produk awal sebelum mereka merilis ponsel. 

Meski demikian, kalau kita melihat sekilas, nuansa yang sama sebenarnya kita temukan juga di Noting Ear yang pertama. Transparan, fokus ke desain yang wow serta tampilan berbagai detail elemen desain. Namun versi yang kedua ini membawa penyegaran eksekusi desain, salah satunya hadir pada ukuran. 

Kalau melihat halaman spesifikasi, panjang earpiece dari Nothing Ear (2) ini lebih panjang, tetapi kurang case lebih kecil. Dari sisi berat baik earpiece dan case sama-sama lebih ringan dari versi yang pertama. Biasanya, optimasi desain ikut berpengaruh pada pengurangan ukuran dan berat seperti ini. 

Untuk kelengkapan fitur, case menyediakan colokan TypeC, lalu ada button untuk connect/reset koneksi. Serta ada bagian metal untuk magnet dan engsel. Sedangkan dari earpiece-nya sendiri, tipe Noting Ear (2) adalah in ear dengan eartips berbentuk membulat. Ada sensor di bagian ‘gagang’ yang berguna untuk gesture (press) control yang bisa diatur via aplikasi. 

Unit yang saya coba uji berwarna putih, saat tulisan ini dibuat, Nothing telah mengumumkan varian warna hitam, persis seperti pendahulunya. Nothing juga melengkapi TWS mereka dengan aplikasi, yang kalau melihat beberapa video promosi produk mereka, menjadi salah satu unggulan karena memungkinkan kita melakukan beragam pengaturan. 

Saat tulisan ini dibuat, aplikasi Nothing X sudah menyediakan pembaruan, bersamaan dengan dirilis varian warna hitam. Salah satu unggulan dari pembaruan adalah fitur yang memungkinkan pengaturan equalizer yang lebih dalam dan sesuai dengan preferensi pengguna. 

Pengalaman non audio 

Secara pengalaman desain produk, alias pengalaman menyentuh pertama kali kotak, membukanya dan melihat produk pertama kali, semua terasa menyenangkan. Sesuai dengan klaim dari Nothing yang merupakan perusahaan teknologi yang mengedepankan desain, semua tertata rapi dengan pemilihan elemen yang dipikirkan. 

Saat bersentuhan pertama kali dengan perangkat juga kesan desain cukup menonjol. Membuat kita penasaran untuk mencoba membolak balik kotak , membukanya dan mencoba perangkat langsung. 

Pengalaman audio

Tentu saja yang paling penting dari perangkat TWS adalah kualitas audionya. Bagaimana kombinasi antara low, mid dan high, serta pengalamannya menikmati beragam genre dari lagu yang diputar. Tidak lupa juga karena tren kerja dari mana saja, penggunaan TWS juga menjadi perlu untuk kepentingan meeting dan call. Sehingga suara mic serta kemampuan ANC-nya juga menarik untuk dijajal. 

Untuk pengujian, seperti biasa karena perangkatnya adalah sebuah TWS, maka pengujian yang saya lakukan menggunakan skenario mobile, yaitu Youtube Music Premium yang diatur audio-nya maksimal dengan menggunakan ponsel yang sudah mendukung HiRes Audio.

Untuk pengaturan lain, saya menggunakan pengaturan audio menu ‘simple’ dengan menu lanjutan ‘more bass’. Lalu ANC high, dengan aplikasi Nothing X terbaru. Ruangan keluarga rumah yang tidak kedap suara.

Secara umum, kualitas yang dihasilkan TWS ini memang tidak jelek. Bahkan cukup baik, termasuk bagi mereka yang suka dengan bass yang akan nendang. Bukan terlalu basshead tetapi cukup untuk membuat bass-nya terasa lebih dari biasanya. 

Detail vokal atau lagu-lagu yang menampilkan petikan gitar serta lantunan piano bisa ditangkap dengan cukup clear serta nyaman di telinga. Salah satu kekurangan (tetapi bisa dimaklumi) adalah soundstage audio yang dihasilkan tidak terlalu lega.

Beragam audio yang hadir terasa cukup padat saling bergantian minta didengarkan. Bisa dimaklumi karena memang dari sisi harga, segmentasi yang ingin disasar antara mid agak ke atas sedikit. Untuk pembanding, Galaxy Buds Pro 1 atau 2 menurut saya masih bisa memberikan separasi yang lebih baik serta soundstage yang lebih luas. 

Uji menggunakan lagu 

Deasy – Dewa 19 

Bass terasa mantap di lagu ini, detail vokal, cymbal juga terdengar cukup detail. Separasi cukup terasa meski tidak terlalu luas. ANC yang dibawa TWS ini juga cukup meredam suara sekitar sehingga bisa menikmati lagu dengan menyenangkan.

Ermy Kulit – Melodi Asmara 

Bassnya terasa nendang, sedangkan separasi hadir cukup meski lagi-lagi tidak terlalu luas. Sedangkan untuk vokal tedengar clear dan bisa menikmati detail, karena memang lagunya berfokus pada karakter vokal Ermy Kulit yang khas.  

Nadin Amizah – Bertaut

Lagu ini menampilkan gitar yang dominan serta vokal yang juga khas, cukup bisa ditangkap dengan menyenangkan oleh Nothing Ear (2). Petikan gitar yang terasa nyaman, blending dengan vokal yang posisinya terasa di tengah 

Adele – Easy on Me

Lagi-lagi lagu dengan nuansa vokal, serta kental dengan aura akustik. Suara Adele yang khas bisa dinikmati dengan cukup detail. Tidak ada komplain untuk mendengarkan lagu ini menggunakan Nothing Ear (2). 

Justin Bieber – Ariana Grande – Stuck with U

Lagu ini, seperti yang bisa saya gunakan untuk menguji perangkat audio, adalah dari genre RnB, ini dimasukan dalam list untuk melihat kemampuan TWS merespon bass khas RnB yang dikombinasikan dengan vokal dari Ariana Grande yang unik. 

Bass bisa dihantarkan dengan cukup baik, begitu juga dengan vokal serta beberapa detail suara yang menjadi latar di lagu ini. Semua ditangkap dengan cukup baik dan blended. 

Queen – Bohemian Rhapsody 

Salah satu lagu wajib untuk menguji perangkat audio. Detail latar yang muncul dan khas lagu ini bisa di-notice dengan cukup baik. Detail vokal juga bisa ditampilkan dengan baik. Namun seperti yang dijelaskan di atas, karena soundstage di Nothing Ear (2) bagi saya tidak terlalu luas jadi lagu ini terasa sedikit kurang megah. Meski demikian secara umum masih bisa dinikmati, termasuk detail suara bass drum yang muncul cukup kentara di beberapa bagian lagu. 

Pearl Jam – Given to Fly 

Ini adalah lagu favorit saya untuk digunakan menguji audio. Lantunan dua gitar dengan nuansa yang berbeda, vokal Eddie Vedder yang khas adalah ujian untuk Nothing ear (2).

Genre rock yang dibawa Pearl Jam juga jadi bahan uji. Nothing Ear (2) bagi saya cukup bisa melibas lagu ini dengan cukup baik. Detail gitar di beberapa bagian bisa dinikmati dengan cukup baik, detail vokal, high note gitar juga bisa ditangani dengan baik, dan dihantarkan dengan nyaman di telinga. Pengaturan more bass juga menambah seru, karena bass di lagu ini juga cukup kentara. 

Tambahan

Penggunaan beberapa Nothing Ear (2) juga saya coba untuk meeting online. Termasuk di area yang tidak ramah meeting alias tempat umum. Perangkat ini bisa menangkap suara dari lawan bicara termasuk juga suara dari saya sendiri karena tidak ada komplain dari lawan bicara saya tentang kualitas suara saat meeting.

Aplikasi yang cukup lengkap 

Nothing juga telah resmi menghadirkan aplikasi Nothing X, sebuah peningkatan dari aplikasi mereka sebelumnya. Dan saking penasarannya, saya akhirnya menunggu untuk rilis pembaruan atas aplikasi ini demi mendapatkan pengalaman lebih lengkap untuk review kali ini. 

Salah satu peningkatan yang dirasakan tentu saja pengaturan equalizer yang lebih lengkap, lebih terpersonalisasi. Tampil dengan grafis yang cukup simple, Anda bisa men-togle pengaturan yang lebih lengkap sesuai keinginan Anda. 

Pengaturan ini memang tidak untuk semua orang. Bagi Anda yang cukup dengan pengaturan yang lebih sederhana, Anda bisa memilih mode atau preset pengaturan audio yang telah disediakan oleh Nothing. 

Informasi tentang sisa baterai, mengubah kontrol menu pilihan sampai dengan Noise Control ada di aplikasi ini. Pengaturan ANC bisa diakses dengan mudah, termasuk juga jika Anda ingin mengatur personalisasi ANC yang unik hanya untuk Anda. 

Tentu saja di aplikasi ini juga Anda bisa mendapatkan informasi standar untuk TWS. Seperti info pemakaian baterai, pengaturan kontrol, juga pengaturan ANC. Personalisasi sesuai keinginan Anda juga bisa dilakukan lewat aplikasi ini. ANC yang tersedia bisa dipilih mulai dari Adaptive, Low, Mid dan High. 

Tentu saja salah satu daya tarik utama dari aplikasi Nothing X terbaru adalah pengaturan Equalizer yang lebih lengkap bagi mereka yang tidak mau menggunakan presets bawaan. Selain bisa menyimpan profil Anda sendiri, pengaturan juga hadir dengan tampilan yang cukup intuitif. 

Kesimpulan Review Nothing Ear (2)

Pengalaman menggunakan Nothing Ear (2) bagi saya adalah semacam perjalanan. Anda akan diajak untuk mengikuti perjalanan produk yang hadir mulai dari kotak penjualan, kelengkapan di dalam kotak sampai dengan perangkat itu sendiri. 

Sebagai perusahaan yang memproklamirkan sebagai design centric company, perjalanan desain dari perangkat ini memang cukup terasa. Berbagai elemen dan keputusan desain yang hadir di produk begitu kentara. 

Memang Nothing masih mempertahankan tampilan transparan yang telah kita lihat di Ear (1), namun ada beberapa peningkatan dan tweak penyempurnaan. 

Dari sisi suara, Nothing Ear (2) tidak jelek. Bahkan cukup baik untuk Anda yang tidak terlalu mencari soundstage. Kualitas detail, bass, dan ANC-nya cukup bersaing dengan TWS keluaran brand smartphone lainnya. 

Sayangnya, kalau berbicara harga, perangkat ini cukup mahal ketika dijual di Indonesia. Meski lebih murah dari TWS premium keluaran brand smartphone lain, Pesaingnya bisa jadi adalah TWS lain dengan harga mirip yang dikeluarkan oleh brand audio. 

Tapi jika melihat gaya kampanye iklan mereka yang menyodorkan alternatif perangkat yang tidak membosankan (dari sisi desain) dan tampil beda, Anda yang suka dengan filosofi serta desain Nothing Ear (2) namun tetap ingin mendapatkan kualitas suara audio yang cukup handal. TWS ini bisa jadi salah satu pilihan yang bisa Anda coba. 

Agate dan PQube Kembangkan Proyek Baru

Agate International, perusahaan teknologi dan pengembang game terbesar di Indonesia, mengumumkan kembali kemitraan strategisnya dengan PQube, sebuah penerbit game internasional yang berbasis di Inggris. Kemitraan ini akan menghasilkan proyek IP baru dengan nama kode “Project Dead”.

“Project Dead” akan menjadi game action-shooter RPG yang menggabungkan elemen roguelite dan multiplayer. Game ini akan dikembangkan oleh Agate dan akan diterbitkan oleh PQube di seluruh dunia.

Kemitraan ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia di industri game global dan menumbuhkan kepercayaan dan kolaborasi yang lebih besar antara perusahaan game lokal dan internasional.

Sebelumnya Agate dan PQube telah bekerja sama lewat proyek IP Valthirian Arc. Valthirian Arc series sendiri disebutkan telah terjual lebih dari US$1 juta di pasar global.

Dikutip dari rilis, Cipto Adiguno, Chief Strategy Officer Agate mengatakan, “Kami sangat bangga dapat mengumumkan kemitraan terbaru kami bersama PQube melalui Project Dead. Proyek ini dihadirkan karena kami melihat animo yang tinggi dan kesuksesan Valthirian Arc, yang berhasil secara global.”

“Kami terus berkomitmen untuk menciptakan sebuah game yang tidak hanya memenuhi, tetapi juga melebihi ekspektasi para gamer di seluruh dunia. Kami harap para gamer bersemangat sama halnya dengan kami dan dapat bersabar untuk menunggu lahirnya “Project Dead”. Kami sangat excited untuk segera memulai perjalanan proyek ini bersama dengan PQube.”

Saat ini Project Dead belum banyak memberikan info terkait game-nya. Yang bisa dilihat salah satunya baru judul serta ornamen disekitar judul. Cipto mengatakan sebenarnya ada hint tentang proyek game di balik ornanem ini.

Project Dead sendiri akan dikembangkan dengan Unreal 5, jadi tentunya akan menarik seperti apa kolaborasi Agate dan PQube kali ini.

Mimpi Besar Mythic Protocol Bertemu Investor, Raih Pendanaan Awal Sebesar $6.5 Juta

Mythic Protocol, sebuah perusahaan Singapura yang digagas oleh veteran industri video game, Arief Widhiyasa dan Igor Tanzil, telah mengumpulkan pendanaan seed series sebesar $6,5 juta. Pendanaan ini dipimpin oleh Shima Capital dan Alpha JWC, dan didukung oleh perusahaan modal terkemuka lainnya seperti  GDP Venture, Saison Capital, Planetarium Labs, Arcane Group, Presto Labs, MARBLEX, EMURGO Ventures, HYPERITHM, dan angel investor lainnya.

Mythic Protocol akan membangun ekosistem Collaborative Entertainment pertama di dunia yang memanfaatkan teknologi blockchain, AI, video game, dan media kreatif. Ekosistem ini akan memungkinkan pengguna untuk berkolaborasi dalam menciptakan konten dan pengalaman hiburan yang unik.

Pendanaan ini akan digunakan untuk pengembangan dan peluncuran produk inti Mythic Protocol, yaitu game action-shooter RPG kolaboratif yang digabungkan dengan sistem progres roguelite lintas platform (PC, konsol, dan gadget) berjudul RIFTSTORM.

Selain itu, pendanaan ini juga akan digunakan untuk pengembangan kumpulan sumber data yang diberi nama Decentralized Universal Meta (on Blockchain) atau DUMB untuk materi para kreator game, serta kelas aset digital yang berevolusi berdasarkan tindakan pengguna, sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan pendapatan aset LEGACY.

Mythic Protocol menargetkan dapat meluncurkan RIFTSTORM ke pasar global, khususnya Amerika Serikat, pada tahun 2024.

Dikutip dari rilis, CEO Mythic Protocol Arief Widhiyasa menambahkan, “Seperti putaran jam – setiap 25 tahun – industri video gim mengalami siklus teknologi. Dimulai dengan semikonduktor yang melahirkan industri video gim, diawali dengan fokus permainan yang menyenangkan. Dilanjutkan dengan internet dan gadget, siklus kedua berfokus dalam mempercepat adopsi video gim ke khalayak ramai – dengan menciptakan model bisnis free-to-play.” 

“Saya percaya bahwa siklus selanjutnya akan segera datang, Siklus ini akan digerakan oleh komputasi terdistribusi (blockchain) dan kecerdasan buatan (AI); dimana masalah baru yang harus dipecahkan adalah partisipasi kolektif untuk menghasilkan nilai di dalam suatu ekosistem, yaitu Collaborative Entertainment“, tutup Arief.

Xiaomi 13T Akan Rilis di Indonesia, Konfirmasi Kehadiran Langsung dari Xiaomi Indonesia

Siap-siap buat Anda yang telah menunggu lama untuk produk seri baru dari Xiaomi, terutama seri penerus Xiaomi 12. 

Xiaomi Indonesia mengkonfirmasi akan kehadiran Xiaomi 13T di Indonesia. Xiaomi 13T ini nantinya akan menjadi smartphone pertama yang menghadirkan Leica Authentic Experience di Indonesia.

Dengan informasi ini, akhirnya Indonesia bisa merasakan hasil kerjasama Xiaomi dengan Leica. Beberapa produk hasil kerjasama ini tidak masuk secara resmi di Indonesia.

Xiaomi 13T telah teregistrasi dalam daftar TKDN Kementerian Perindustrian sejak pertengahan tahun 2023. Country Director Xiaomi Indonesia, Wentao Zhao, mengatakan bahwa Xiaomi Indonesia akan membawa pengalaman fotografi premium ke pasar Indonesia.

“Sesuai dengan janji kami kepada Xiaomi Fans pada kuartal pertama tahun ini, Xiaomi Indonesia akan membawa pengalaman fotografi premium ke pasar Indonesia. Kami berharap kehadiran Xiaomi 13T yang merupakan perpaduan inovasi smartphone Xiaomi dengan pengalaman Leica Authentic Experience pertama di Indonesia akan mendapat sambutan yang baik dari Xiaomi fans dan masyarakat Indonesia.” – Country Director Xiaomi Indonesia, Wentao Zhao.

Xiaomi 13T Series akan secara resmi diluncurkan untuk pasar global pada tanggal 26 September 2023. Rilis akan dilakukan di Berlin, dengan membawa tagline “Masterpiece in Sight”.

Smartphone berlabel “co-engineered with Leica” ini tentunya akan menjadi penantang menarik di pasar Indonesia. Sungguh sayang memang, bukan seri flagship Xiaomi 13 yang hadir di sini. Tapi tak apalah, minimal seri 13 hadir juga jadi tidak bosen seri 12 terus yang diperkenalkan Xiaomi di Indonesia. 

Sebagai pengguna Xiaomi 12 Pro, saya sendiri menantikan kemampuan fotografi yang akan dibawa Xiaomi 13T, semoga di atas kemampuan kamera Xiaomi 12T yang enderung biasa saja. Setidaknya jika diadu dengan versi 12 Pro. 

Xiaomi mengatakan bahwa Xiaomo 13 T ini akan menghadirkan pengalaman fotografi level profesional bagi Xiaomi fans, penggemar fotografi, dan masyarakat Indonesia pada umumnya. 

Bikin penasaran. Mari kita tunggu info selanjutnya.

Berburu Foto Seharian di TMII dengan Kamera 64MP OPPO A98 5G

Belum lama ini, OPPO Indonesia telah mengumumkan rangkaian smartphone A Series terbarunya, termasuk OPPO A38, A58, dan yang sedang saya ulik adalah A98 5G. Model paling atas dari OPPO A Series ini dijual seharga Rp4.899.000 dan mencomot beberapa fitur milik perangkat Reno Series.

Pada Selasa (19 September 2023), OPPO mengadakan kegiatan experience dengan perangkat A Series ke Taman Mini Indonesia Indah. Di sana saya menggunakan OPPO A98 5G sebagai ‘daily smartphone’, sambil menguji bagaimana kemampuan kamera dan performanya dalam mendukung aktivitas harian.

Memotret Wajah Baru Taman Burung TMII dengan Kamera Utama 64MP

OPPO-A98-5G-7

Boleh dibilang, kegiatan utama experience OPPO A Series kali ini adalah berburu foto. Pas sekali, karena salah satu fitur unggulan OPPO A98 5G yang bikin saya penasaran ialah kamera utama 64MP-nya. Itu ditemani dua kamera 2MP untuk kedalaman dan satunya dengan lensa microscope 40x.

Tidak diungkap tipe sensor gambar pada kamera utamanya, tetapi ukurannya cukup besar di kelasnya yaitu 1/1,98 inci dengan lensa wide 26mm, aperture f/1.7, dan PDAF. Ada dua tempat yang kami kunjungi di TMII, Taman Burung dan Museum Komodo, keduanya punya tantangannya tersendiri.

Berangkat jam enam pagi dengan kondisi baterai OPPO A98 5G penuh, saya memasuki Taman Burung jam sepuluh dan memotret dengan intens sampai jam makan siang. Kondisi cuaca agak berawan dan di dalam Taman Burung ada banyak sekali pohon besar nan rindang, jadi pencahayaannya masih tergolong baik.

OPPO-A98-5G-8

Satu tips fotografi jika ingin mendapatkan kualitas optimal adalah hindari penggunaan zoom, tetapi kalau subjeknya burung dan susah didekati, mau tidak mau saya harus sering-sering memakai zoom. Di OPPO A95 5G, terdapat 2x lossless zoom yang masih mampu memberikan kualitas foto yang prima.

Tentunya karena memang didukung cahaya yang cukup dan pegang dengan stabil saat memotret, tidak disarankan untuk memakai lebih dari 2x zoom. Di bawah ini beberapa hasil dokumentasi wajah baru Taman Burung di TMII dari kamera OPPO A95 5G.

Jeda makan siang, saya memanfaatkan waktu untuk memilah hasil foto dan memasang berbagai aplikasi yang dibutuhkan untuk persiapan review. Ditenagai chipset Snapdragon 695 5G, RAM 8GB ditambah RAM expansion hingga 8GB, dan penyimpanan internal 256GB, kombinasinya mampu menghadirkan performa yang lancar.

Saat berburu foto di luar ruangan, tingkat kecerahan layar juga penting. Layar lapang IPS LCD 6,72 inci FHD+ dengan refresh rate 120Hz di OPPO A98 5G sudah memiliki tingkat kecerahan tinggi 680 nits. Setelah makan siang, kami melanjutkan berkeliling dan kemudian berpindah ke Museum Komodo.

Di Museum Komodo, area utamanya di dalam ruangan dengan pencahayaan temaram yang sangat menantang. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, saya bereksplorasi mencoba mode Night dan Pro, serta menggunakan shutter speed lebih rendah. Selain Komodo, di sana Anda dapat melihat ular, buaya muara, iguana, dan berbagai jenis kura-kura.

Dari kegiatan experience tersebut, kamera utama 64MP milik OPPO A98 5G terbukti mampu mendokumentasi berbagai momen dengan apik, ini berarti bisa menjadi rekomendasi perangkat untuk liburan bersama keluarga. Performanya yang mulus juga cocok untuk menunjang aktivitas sehari-hari, ditambah baterai 5.000 mAh tahan seharian dan didukung pengisian daya cepat 67W SUPERVOOC yang dapat mengisi penuh dalam 44 menit.

Bagi yang tertarik dengan OPPO A98 5G, smartphone A Series terbaru ini dijual seharga Rp4.899.000 di Indonesia. Saat ini Anda sudah bisa memesannya secara pre-order dari tanggal 14 hingga 21 September 2023, ada dua pilihan warna yaitu hitam dan biru.

Perangkat Samsung Ini Gunakan Materi Daur Ulang

Samsung menghadirkan produk yang lebih ramah lingkungan, yang menggabungkan pemanfaatan limbah daur ulang dan material baru. Inovasi ini hadir pada perangkat Galaxy Z Fold5 dan Z Flip5.

Galaxy Z Fold5Galaxy Z Fold5 dan Z Flip5 menggunakan 15 komponen dengan materi daur ulang, yang artinya 3 kali lipat lebih ramah lingkungan dibandingkan seri sebelumnya. Perangkat ini juga memiliki kemampuan upgrade OS hingga 4 kali, yang dapat mengurangi limbah elektronik.

Dalam upaya untuk mencapai keseimbangan yang tepat antara inovasi dan keberlanjutan, Samsung telah mengubah perilaku penggunaan smartphone melalui berbagai langkah. 

Salah satunya adalah dengan menyediakan perangkat yang tahan lama, dengan fokus pada daya tahan fisik, program trade-in, pembaruan sistem operasi, dan perangkat lunak keamanan. Langkah-langkah ini bertujuan untuk memastikan penggunaan smartphone yang lebih sadar lingkungan.

Upaya lain untuk memberikan dampak positif pada lingkungan yang dilakukan Samsung di produk Galaxy Z Fold5 dan Z Flip5 antara lain: 

Material daur ulang semakin beragam dan ada di lebih banyak komponen

Galaxy Z Fold5 dan Z Flip5 Z Flip5 menggunakan lebih banyak material daur ulang di berbagai komponen, termasuk komponen internal dan eksternal, dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Galaxy Z Fold4 dan Z Flip4 menggunakan 6 komponen dari material daur ulang, sedangkan Galaxy Z Fold5 dan Z Flip5 menggunakan 15 komponen. Kedua perangkat ini juga menggunakan aluminium daur ulang dari tahap pra-konsumen dan plastik daur ulang yang diperoleh dari berbagai sumber, seperti jaring ikan, wadah air, dan botol PET yang tak terpakai.

Galaxy Z Fold5 dan Z Flip5 menggunakan lebih banyak material daur ulang di berbagai komponen, termasuk komponen internal dan eksternal, dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

 Bila Galaxy Z Fold4 dan Z Flip4 menggunakan 6 komponen dari material daur ulang, maka Galaxy Z Fold5 dan Z Flip5 menggunakan 15 komponen. Kedua perangkat ini pun sudah menggunakan aluminium daur ulang dari tahap pra-konsumen dan plastik daur ulang yang diperoleh dari berbagai sumber, seperti jaring ikan, wadah air, dan botol PET yang tak terpakai.

Material daur ulang meningkat serta kemasan ramah lingkungan 

Selain menambahkan lebih banyak jenis material daur ulang dan menggandakan jumlah komponen perangkat, Samsung juga menggunakan 10% plastik daur ulang pasca-konsumen yang berasal dari tong air bekas untuk tombol volume, SIM tray, modul speaker, dan casing depan.

Selain itu, Samsung juga menggunakan kaca daur ulang pra-konsumen dengan kandungan rata-rata 22% untuk Corning® Gorilla® Glass Victus® 2.

Sebagai upaya untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, Samsung menggunakan kertas daur ulang 100% pada kotak kemasan. Hal ini memungkinkan pengguna untuk merasakan pengalaman menggunakan smartphone canggih, sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Siklus hidup perangkat yang lebih lama 

Selain menggunakan material yang sadar lingkungan, Samsung juga berupaya untuk membentuk perilaku penggunaan smartphone yang berkelanjutan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi limbah elektronik yang semakin menumpuk. Oleh karenanya, Samsung mengoptimalkan Galaxy Z Fold5 dan Z Flip5 dengan masa pakai yang lebih panjang, yaitu dengan meningkatkan kemampuan upgrade perangkat hingga 4 kali.

Kedua produk tersebut dilengkapi dengan pembaruan keamanan selama lima tahun dan pembaruan sistem operasi hingga empat generasi. Hal ini memperpanjang masa pakai perangkat, sehingga pengguna dapat lebih tenang menikmati perangkat mereka dalam waktu lebih lama. Selain itu, Samsung juga menawarkan program Trade-In dan Eco-Box untuk mendukung pengguna Galaxy dalam memperpanjang umur pakai perangkat mereka.

Komitmen Galaxy for the Planet

Samsung menyadari tanggung jawabnya untuk mengurangi dampak lingkungan dari bisnisnya. Oleh karena itu, melalui divisi DX (DEvice eXperience), Samsung meluncurkan platform keberlanjutan yang disebut “Everyday Sustainability”. Platform ini bertujuan untuk membantu orang-orang menjalani gaya hidup yang berkelanjutan dan mencapai emisi karbon nol bersih pada tahun 2030.

Sebagai bagian dari inisiatif tersebut, Samsung Mobile eXperience (MX) telah menetapkan dua komitmen dalam visi internal mereka yang disebut “Galaxy for the Planet”. Pertama, Samsung berkomitmen untuk menggunakan lebih banyak bahan daur ulang dalam produk-produk mereka menjelang tahun 2025. Kedua, Samsung berusaha untuk menghentikan penggunaan plastik sekali pakai dalam kemasan produk mereka pada tahun 2025.

Verry Octavianus, MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia mengatakan, “Samsung menyadari betapa pentingnya perhatian terhadap masalah lingkungan dan tanggung jawab sosial dalam setiap langkah yang kami ambil. Ini tercermin dalam inisiatif kami, yakni ‘Galaxy for The Planet’, di mana kami mengintegrasikan material daur ulang dalam inovasi produk kami, merancang kemasan yang lebih bersahabat dengan lingkungan, dan memperpanjang masa pakai produk untuk mengurangi dampak sampah elektronik.

OPPO Rilis Varian Baru OPPO A58, Kini Hadir dengan RAM 8GB

OPPO perkenalkan varian baru OPPO A58 dengan RAM yang lebih besar yaitu RAM 8GB. Kehadiran varian ini menambah lengkap jajaran perangkat entry level andalan OPPO.

OPPO A58 menjadi penting bagi OPPO karena perangkat ini menjadi penerus perangkat laris OPPO A57.

OPPO berhasil mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar smartphone Indonesia di kuartal ketiga tahun 2023. Perangkat entry-level dari lini OPPO A Series, seperti OPPO A57, berkontribusi dalam pencapaian ini.

Untuk mempertahankan posisinya di kuartal selanjutnya, OPPO merilis perangkat baru, OPPO A58, pada bulan Agustus.

OPPO A58 cukup disambut baik oleh konsumen. Beberapa keunggulan yang membuatnya menarik antara lain adalah membawa fitur kelas atas, seperti pengisian daya 33W SUPERVOOCTM dan kamera AI, dengan harga terjangkau.

OPPO A58 varian terbaru hadir dengan RAM 8GB. Dikombinasikan dengan fitur Dynamic Computing Engine, OPPO A58 menawarkan performa yang andal untuk mendukung aktivitas multitasking dan bermain game.

OPPO A58 varian RAM 8GB juga dilengkapi dengan layar FHD+ dan speaker stereo. Dengan baterai 5000mAh dan pengisian daya 33W SUPERVOOC, OPPO A58 dapat mengisi daya hingga 50% dalam waktu 30 menit.

OPPO A58 varian RAM 8GB dijual seharga Rp 2.799.000 dan sudah tersedia di seluruh OPPO Store, toko rekanan resmi OPPO, OPPO Online Store, dan seluruh e-commerce terkemuka di Indonesia.

Informasi  seputar OPPO A58, silakan kunjungi tautan berikut ini: https://www.oppo.com/id/store/product/oppo-a58.P.P1000575

 

Varian Baru OPPO A58